Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Mei 2013

Akhirnya Setuju Untuk Menetapkan Tujuan

We have perhaps a natural fear of ends. We would rather be always on the way than arrive. 
Given the means, we hang on to them and often forget the ends.
                                                                       ---Eric Hoffer---


Ketika tanpa sengaja saya membaca quotes diatas, kepala saya seperti ditampar. Seakan-akan si Hoffer mengucapkan hal diatas khusus untuk saya. Saya  yang takut untuk sampai. Ketakutan yang bodoh. Ketakutan akibat ketidaksiapan bukan ketidakmampuan (bedanya apa cuk?) karena memang tak pernah memikirkan persiapan dan tak pernah benar-benar bersiap-siap.

Saya akui bahwa saya bukan tipe orang yang mau repot atau ambil pusing untuk masalah yang mungkin sebenarnya penting tapi membutuhkan usaha lebih. Sejak dahulu hidup saya tak pernah memiliki rencana. Semua berjalan apa adanya dan sekali lagi "saya tidak pernah ambil pusing".

Ambil contoh ketika masih SMA, ada beberapa teman yang sudah punya rencana jangka panjang. Mereka sudah memikirkan untuk kuliah dimana, setelah lulus kuliah hendak bekerja dibidang apa, hendak berumah tangga pada usia berapa, dan ingin punya anak berapa (kenapa ga sekalian aja lu rencanain mau mati diumur berapa!!). Sedangkan saya hanya punya rencana jangka super pendek, misalnya caturwulan ini angka merah di rapor cukup untuk pelajaran dibidang IPA dan matematika. Dahsyat!! Kalo menurut Mario Tegang "Zuper Zekali".

Saya selalu berpikir bahwa untuk nanti cukup dipikirkan nanti, pikirkan aja apa yang jelas ada didepan mata. Sebenarnya ini tidak salah seandainya hal ini merupakan penjabaran dari kerangka rencana jangka panjang. Dan itulah yang tidak pernah saya miliki, sebuah rencana jangka panjang. Setamat SMA saya belum tau mau kuliah dimana dan kuliah dibidang apa. Saat kuliah, ketika teman-teman sudah sibuk memikirkan judul skripsi, saya masih berpikir "semester depan aja lah". Setamat kuliah saya seakan-akan kehilangan tujuan karena saya tak pernah bersungguh-sungguh mencari pekerjaan, yang ribut justru orang-orang disekitar saya (terutama keluarga). Setiap kali diceramahi oleh orang tua dan diminta untuk lebih serius, serta merta saya memasang tampang patuh dan mendengar sepenuh hati seperti kucing pilek. Setiap kali dinasehati oleh paman-paman (peran paman dari pihak ibu dalam budaya minang cukup sentral, dan saya minang tulen) saya dengarkan dengan wajah sungguh-sungguh (dan pikiran entah kemana). Pepatah minang yang berbunyi "iyo kan nan dek urang, laluan nan dek awak"(*) benar-benar saya terapkan dengan sempurna.

Pada akhirnya saya seperti membiarkan takdir memilihkan jalan. Hidup saya mengalir tanpa beban sekaligus tanpa tantangan. Sampai pada satu titik dimana saya dipaksa oleh orang tua untuk memilih antara menikah atau melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Hal ini tak bisa ditawar sedikitpun. Dan saya terpaksa memilih untuk kembali kuliah karena saat itu tidak tau siapa yang akan saya ajak menikah!!

Tapi semua ada hikmahnya, dengan keterpaksaan itu saya jadi punya tujuan. Dan lagi tujuan jangka pendek, yaitu menamatkan S2. Singkat cerita, saat masih menjalani kuliah saya mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri yang saya ambil dengan setengah hati. Sempat terpikir kalau nanti rasanya tidak cocok saya akan berhenti. Bukan pekerjaannya yang saya takuti, tapi konsekuensi setelah saya bekerja. Pasti ada tuntutan lanjutan setelahnya, yaitu menikah. Hal yang cukup menyeramkan bagi bujangan yang hidup tanpa perencanaan. Tapi saat itu saya masih punya tameng karena kuliah saya belum selesai. 

Dan... Saudara-saudara sebangsa setanah air yang saya cintai, ternyata benar, ketika kuliah kelar desakan datang dari segala penjuru. Ketika akhirnya saya menjalani sebuah hubungan yang semestinya bermuara pada pernikahan, saya menjalaninya setengah hati. Kebiasaan lama yang sudah mendarah daging yang selalu terulang, dengan motto "jalani saja, kalau jodoh tidak akan kemana", tapi disana tidak ada niat yang sungguh-sungguh dari hati terdalam. Saya hanya memasrahkan takdir untuk memilihkan. Saya hanya menjalani sebuah proses namun gamang dengan tujuan dari proses tersebut. Persis dengan kata-kata Kang Hoffer diawal tulisan "We would rather be always on the way than arrive". Saya melupakan tujuan!

Semua proses yang saya ceritakan diatas menyadarkan saya untuk segera berubah. Saya sudah tidak bisa lagi sekedar berproses tanpa bertujuan untuk mengambil manfaat atau memetik hasil dari proses tersebut. Karena tidak ada yang perlu ditakutkan ketika sampai pada satu tujuan, setelahnya pasti ada tujuan lebih lanjut yang juga membutuhkan proses lain untuk mencapainya.

Akhirnya saya sadar, walau mungkin terlambat (biarin!! yang penting sadar) saya harus menetapkan tujuan. Meniatkan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan (Tepuk tangan!!). Untuk semua sisi kehidupan yang saya jalani saya harus menetapkan tujuan, merencanakannya dengan baik, dan melaksanakan apa yang saya rencanakan dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan dari tulisan diatas yang berputar-putar kesana kemari seakan-akan tanpa tujuan bahwa tujuan terdekat yang harus saya capai saat ini adalah pernikahan. Hanya butuh sedikit kenekatan (tentu saja yang terukur) untuk mewujudkannya. Dengan niat yang sudah bulat, Insya Allah akan dimudahkan walau hingga tulisan ini selesai target operasi masih belum jelas!! Bwahahahahahaha..........


(*) iyakan saja apa kata orang, tapi tetap lakukan apa yang kita inginkan (kurang lebih begitulah artinya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar