Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Juni 2013

MLM : Pahami Sebelum Mengikuti

Pernahkah anda "diganggu" oleh kenalan ataupun keluarga yang dengan penuh semangat menawari anda bergabung dalam bisnis Multi Level Marketing (MLM)? Kalau tidak salah itu istilahnya "diprospek". Dan dari pengalaman pribadi saya, diprospek ini prosesnya jauh lebih menyebalkan daripada di-ospek. Saya pernah mendaftar menjadi anggota dalam bisnis ini karena terpaksa. Terpaksa karena bosan setiap hari diprospek kanan kiri. Kebetulan waktu itu ada sebuah bisnis MLM yang sedang booming. Biasanya pengenalan terhadap sebuah bisnis MLM diawali dengan cerita kesuksesan "si anu" yang punya rumah segitu dan mobil segini dalam waktu cuma beberapa anu. Cerita yang memancing rasa penasaran seperti itu merupakan senjata andalah para pejuang MLM. Setelah korban terpancing barulah niatan sebenarnya diungkap. Korban kemudian dilenakan dengan cerita-cerita sukses dan janji-janji muluk tentang keuntungan yang akan diraih. Jika anda terpikat, ya sudah, jangan salahkan bunda mengandung.

Untuk itu kali ini saya berniat untuk sedikit membuka kedok bisnis MLM. Hal ini berangkat dari kegerahan atas klaim dari beberapa pejuang MLM yang saya temui (ahh... kelihatannya saya berbakat jadi politikus yang selalu sok peduli, terutama menjelang pemilu). Saya akan mencoba memaparkannya sesederhana mungkin sehingga dapat dengan mudah dipahami (InsyaAllah) soalnya dari beberapa artikel yang membahas hal sejenis yang pernah saya baca, ada kesan sulit untuk dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu bisnis atau ekonomi.

Pertama-tama harus dibedakan dulu antara MLM dengan bisnis direct selling. Sekilas dari luar kedua bisnis ini terlihat mirip, tapi yakinlah, roh kedua bisnis ini berbeda jauh, sejauh hubungan kamu sama mantan yang sudah kawin. Dalam sebuah bisnis MLM, produk yang dijual hanya kamuflase dengan harga yang bisa dikatakan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan produk sejenis. Beberapa diantaranya merupakan produk yang diklaim memiliki manfaat bagi kesehatan padahal sama sekali belum teruji secara ilmiah. Satu lagi ciri khas yang sangat kental dalam bisnis ini adalah semangat yang tinggi dari anggotanya dalam mencari downline, bukan menjual produk. Semua peserta selalu berpikir "lebih baik mencari downline sebanyak-banyaknya, biar mereka yang berusaha, nanti saya tinggal ongkang-ongkang kaki". Akibatnya tujuan bisnis yang normal (etis), yaitu menjual produk dan mendapat profit dari aktivitas tersebut, jadi terabaikan sehingga bisnis ini lebih cenderung mengarah pada money game (hanya saja disertai produk yang dijadikan alat kamuflase). 

Sedangkan perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan eceran. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan menjual produk ke konsumen, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus. Tapi sayangnya beberapa perusahaan direct selling dengan salah kaprah telah difitnah dan bahkan memfitnah diri mereka sendiri sebagai perusahaan MLM meski secara bahasa hal ini tidak salah mengingat sistem penjualan yang juga berjenjang. Intinya, beda MLM dan direct selling adalah dari sisi sumber semangatnya. Pejuang MLM memiliki semangat dan tujuan untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya sedangkan pasukan direct selling bersemangat menjual produk sebanyak-banyaknya. Dan lagi, hampir semua produk MLM sebenarnya dibeli oleh anggota mereka, bukan pelanggan asli.

Dari perbedaan diatas dapat dilihat bagaimana sistem MLM pada akhirnya akan memakan korban, yaitu anggota yang bergabung belakangan. Keuntungan sudah pasti hanya terpusat pada mereka yang memasuki bisnis ini pada saat awal ketika bisnis belum berkembang. Untuk itu mari kita berasumsi jika dalam sebuah bisnis MLM setiap anggota diwajibkan merekrut lima anggota baru. Maka deret ukur yang muncul adalah sebagai berikut, 1, 5, 25, 125,.... dan pada level ke-13 kita akan menemukan angka 244.140.625,- Itu adalah jumlah penduduk Indonesia. Dan bila hitungan anda cukupkan sampai level ke-15 anda akan menemukan angka lebih dari 6 milyar. Luar biasa, padahal jumlah penduduk dunia pada 2013 diperkirakan 7,2 Milyar. Artinya MLM tersebut kekurangan stok manusia untuk mencari downline level ke-16. Itu berarti MLM memiliki titik jenuh yang pasti, walau pada kenyataannya belum ada satupun perusahaan MLM yang sempat mencapai titik jenuh ini, tetapi logikanya adalah seperti angka-angka yang saya sajikan diatas (terimakasih pada MS-Excel yang sangat memudahkan saya dalam melakukan perhitungan, tidak terbayangkan jika hitung-hitungan diatas harus saya lakukan secara manual). 

Salah satu pertanyaan terbesar dalam bisnis MLM adalah berapa persentase pejuang MLM yang meraih keuntungan dari bisnis ini? Mari kita sekali lagi berandai-andai. Berikut adalah sebuah ilustrasi matematika sederhana dari program distribusi 6 level yang mana setiap orang wajib merekrut 5 orang. Seorang partisipan akan mulai mendapatkan keuntungan setelah memiliki 2 level downline, yang berarti keuntungan baru bisa diperoleh saat sudah memiliki 30 downline (5+25 = 30 orang).

Ilustrasi:
Top Level: 1
Level #2: 5
Level #3: 25
Level #4: 125
Level #5: 625
Level #6: 3.125
Total 3.906 partisipan

Karena hanya anggota yang memiliki 2 level downline saja yang bisa untung, maka hanya partisipan level 1,2, 3 dan 4 yang akan mendapatkan keuntungan. Jumlah mereka (156/3906) kurang dari 4%. Persentase anggota yang kehilangan uang lebih dari 96%.

Hal ini akan tetap berlaku berapapun level yang ditambahkan. Kita akan dapat memastikan bahwa 96% anggota pasti akan rugi. Contoh, bila ilustrasi diatas ditambah 1 level (level #7), berarti ada tambahan 15.625 anggota. Peserta total akan menjadi 19.531. Jumlah anggota yang bisa mendapatkan keuntungan adalah 1+5+25+125+625=781 orang, tetap kurang dari 4% dibandingkan 19.531.

Benar-benar jenis bisnis yang bisa memberi kepastian, PASTI BANYAK YANG TEKOR!! Dan bukan cuma itu saudara-saudara, anggota baru yang "terjebak" memasuki bisnis MLM biasanya dibebani dengan semacam uang pendaftaran. Uang pendaftaran ini merupakan salah satu sumber pendapatan utama dan uang itu merupakan kerugian awal yang didapat oleh anggota yang bergabung belakangan. Seandainya setiap anggota baru dikutip Rp.50.000 saat pendaftaran, maka dengan menggunakan ilustrasi diatas mari kita kalikan jumlah dana yang terkumpul dari yang buntung (3750x50000=187,5Jt). Uang sebanyak Rp.187,5Jt  itu menguap entah kemana.

Apakah cukup sampai disana sistem yang jahat ini bekerja? Tentu tidak!! Masih ada kegiatan bisnis tambahan lain yang mendatangkan pemasukan sangat signifikan melalui bisnis tambahan yang antara lain dilakukan dengan mengadakan seminar motivasi yang dibarengi dengan penjualan buku, kaset, dll yang katanya merupakan trik untuk mencapai "kesuksesan". Uang pendaftaran untuk mengikuti seminarpun seringkali dibungkus dengan indah menggunakan kata "investasi". Investasi ini rata-rata berkisar pada angka Rp.500.000,-. Silahkan anda kalikan sendiri dengan angka ilustrasi yang kita gunakan diatas!! Fantastis!!

Fokus utama pelatihan dan seminar mereka adalah melatih, memotivasi, dan memberikan reward kepada anggota untuk merekrut lebih banyak anggota lainnya. Kenyataannya, mau ikut dalam ribuan pelatihan yang sama dengan ribuan motivasi yang sama dilanjutkan dengan membaca buku motivasi yang sama, dan menonton video motivasi yang sama, hasil yang diperoleh tidak akan sama. Semua sangat tergantung pada timing seseorang terlibat dalam bisnis ini. Tidak ada korelasi sama sekali dengan motivasi, semangat, ataupun pelatihan yang diikuti.

Trus, apa lagi borok yang harus dibongkar dari bisnis ini? Data saudaraku yang tercinta. Data yang mereka sajikan sebagai bahan motivasi bisa dikatakan merupakan dusta yang nyata. Mereka selalu menyajikan data pendapatan anggota bisnis mereka dengan merata-ratakan pendapatan segelintir orang yang berpendapatan besar dalam bisnis mereka dengan ribuan yang tidak mendapat apa-apa. Analoginya, coba anda kumpulkan 1000 orang gelandangan yang tinggal di bawah kolong jembatan untuk dihitung penghasilan rata-rata mereka, selanjutnya anda ikutkan Chairul Tanjung dalam perhitungan tersebut. Sudah pasti dari perhitungan tersebut akan muncul penghasilan rata-rata yang fantastis. Padahal kenyataannya cuma satu orang yang memiliki penghasilan luar biasa! Hal ini menimbulkan kesan seakan-akan anggota mereka rata-rata mendapatkan profit padahal dalam kenyataan mayoritas anggota tidak mendapatkan apa-apa. 

Selanjutnya hampir semua data yang dipresentasikan MLM mengabaikan biaya rata-rata ataupun pengeluaran seperti transportasi, telepon, perjalanan, pelatihan, ataupun ongkos pengiriman yang terjadi akibat mengoperasikan bisnis MLM. Dengan cara ini, “gross income” dicampuradukkan dengan “net profit”.

Mau tau sebuah fakta yang sangat mengejutkan? Survei dari Pyramid Scheme Alert menunjukkan bahwa peluang keberhasilan dalam bisnis MLM lebih kecil dibandingkan dengan peluang menang dalam beberapa jenis perjudian!! Lebih dari itu, dalam semua permainan judi dan lotere, peluang menang-kalah adalah bersifat acak, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Dalam bisnis MLM, peluang menang-kalah sangat ditentukan oleh posisi dan timing. Hanya mereka yang mengikuti program sejak awal, pemilik program, dan sejumlah kecil anggota yang akan mendapatkan keuntungan. Mereka berada di posisi di mana keuntungan sudah dipastikan ada setiap kali ada anggota baru yang masuk. Para pecundang, yaitu mereka yang masuk belakangan, tidak memiliki peluang sama sekali untuk menggantikan posisi mereka yang berada di atas.

Dari paparan diatas dapat kita lihat betapa jahatnya model bisnis seperti ini. Bahkan judi yang sudah pasti haram pun masih kalah mengerikan dibanding bisnis ini. Saya tidak berani memvonis bahwa MLM adalah bisnis yang haram. Akan tetapi, anda dapat memasukkan saya kedalam golongan orang-orang yang tak akan pernah terlibat dalam bisnis ini. Dan bagi anda yang masih tertarik untuk melakukan bisnis ini, silahkan saja. Tapi saya harap anda benar-benar paham dengan sistem yang dijalankan serta mengerti dengan peluang anda didalamnya. Perhitungan anda harus benar-benar matang dan tidak semata-mata terbuai dengan iming-iming bonus yang diberikan. Jika tidak, alih-alih investasi (seperti terminologi yang sering digunakan dalam bisnis ini untuk uang pendaftaran dan biaya seminar) anda akan tersesat ke ranah tak bertuan yang sangat mengerikan. MLM seringkali tak lebih dari money game hasil modifikasi dari Skema Ponzi dan Pyramid Game yang disembunyikan dengan penjualan produk sementara keuntungan yang dicari bukanlah melalui penjualan produk-produk yang ditawarkan. Hukum dinegara kita masih belum memberi perlindungan maksimal dibidang ini.

Terakhir, ada satu lagi kata-kata rayuan yang sering dilontarkan saat anda dibujuk masuk kedalam bisnis ini. Ketika anda terlihat sudah antipati dengan model bisnis seperti ini, si pembujuk akan berusaha meyakinkan anda bahwa bisnis MLM yang satu ini "lain". Bisnisnya berbeda dengan MLM-MLM lain yang pernah anda dengar. Percayalah, tak ada yang "lain" dalam bisnis ini. Roh dari bisnis ini tetap sama dari masa ke masa, hanya topengnya yang diganti-ganti. 

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dgn jalan yg batil (Q.S. An Nisa' : 29)


NB: Ada hal menarik dalam sebuah terminologi pada bisnis ini. Istilah downline seringkali disebut dengan istilah "kaki" dalam Bahasa Indonesia. Entah itu sebuah olok-olok pada anggota yang masuk belakangan karena mereka menjadi kaki. Kaki yang menopang beban tubuh secara keseluruhan, dalam hal ini mereka menanggung beban kerugian. Mereka adalah korban, ironisnya, seringkali mereka adalah korban dari harapan bahkan terkadang korban ketamakan diri mereka sendiri.

4 komentar:

  1. sebaiknya tidak menjudge negatif, saya pikir bisnis mlm bagus kalo kita pintar memilih perusahaan dan produknya. tidak ada yg dirugikan, banyak sisi positif yang kudapat.

    BalasHapus
  2. Artikel yang bermanfaat, join mlm tidak salah, yang salah adalah alasan joinnya. kalau "hanya" kepingin sukses seperti si A atau si B itu sudah salah kaprah. Saya adalah orang yang "besar" lewat MLM. karena MLM saya punya banyak teman, berani bicara di depan orang banyak, dan tentunya dapat pengasilan ratusan juta yang dicapai hanya dalam hitungan bulan. Bahkan saya membeli mobil baru pertama lewat MLM.
    Tetapi jangan terlena dengan iming-iming duniawi. Jangan pernah berpikir perusahaan MLM anda tidak akan tutup / jatuh. banyak MLM competitor yg ingin meruntuhkan MLM anda ketika MLM anda sedang booming.

    Saya termasuk org yang 4%, bisa menikmati hasil dari MLM yg beberapa tahun lalu sedang booming. tetapi ketika perusahaan tsb jatuh akan timbul banyak sekali korban. Ya itu korban saya.... korban dari org2 yg menonjolkan sisi materi saja. "Memotivasi" para downline dengan kesuksesan (harta) diri sendiri akan membuat orang "gelap mata" untuk join. Dan penyesalan akan muncul setelah MLM anda tutup. Akan banyak "korban" yg menangis, memarahi bahkan menuntut anda.

    Bagi para leader MLM, berhentilah untk memamerkan kekayaan anda, MLM yang baik adalah MLM yang ketika seorang member join, dia benar2 butuh dan merasakan manfaat produknya. Dia tidak akan memaksakan diri untuk join apabila tidak mampu. Jika produk anda kurang bermanfaat bagi prospek, sebaiknya jangan anda paksakan mereka untuk join. singkirkan pikiran bahwa anda akan membuat dia sukses setelah dia join. Ingat bahwa kesuksesan ada ditangan Tuhan dan dia sendiri. Product must be first, Then Help others.
    Jadilah Leader yang berhati nurani dan berniat tulus untuk membantu orang lain, Insya Allah rezeki anda akan lancar. Go Freedom for you all. Love and Peace

    BalasHapus
  3. sistem MLM tidaklah jelek,dan saya adalah salah satu yang bisa merasakan keberhasilan dari bisnis MLM selama 18 tahun menggeluti bisnis MLM,saya sudah menikmati apa yang dikatakan dalam setiap presenetasi kebebasan waktu dan keluarga,kebebasan financial dan pengembangan diri.semuanya saya rasakan.inti dari pada sukses dibisnis MLM apakah kita menganggap bisnis ini adalah layak untuk dikerjakan bagi kita atau sebaliknya kita memandang sebelah mata bisnis ini.bisnis apapun yang kita kerjakan kalau kita tidak bersungguh-sungguh dan fokus tidak akan menghasilkan apapun juga.kebanyakan member gagal,karna tidak mau belajar dan masuk dalam lingkaran orang yang sukses,dan ada sebagian lagi hanya menfokuskan diri pada penjualan product,bagaimana bisa menghasilkan income kalau setiap member tidak memahami sistem plan pemasaran,yang akan menjadikan uang baginya.inilah kesalahan yang sangat fatal,dimana muncul sisi negatif bagi yang gagal,sebagian yang lainnya lagi adalah joint di mlm karna faktor x mis.terpaksa joint karna sungkan,konsumen yang ingin membeli product dengan harga murah,member kutu loncat dll.
    Tidak salah kalau di katakan MLM pyramid scheme dan hanya sedikit yang berhasil sukses di bisnis MLM,hal ini semua dikarenakan faktor2 diatas.
    Kalau kita lihat sebuah perusahaan MLM yang memiliki product yang sulit dijual dan sistem plan pun juga sulit...pertanyaannya....Mengapa di setiap perusahaan MLM tersebut selalu muncul pemenang...atau leader yang memiliki income yang besar...sebaliknya perusahaan yang mempunyai product tidak bagus dan juga sistem plan yang tidak bagus...tetap juga ada orang yang berhasil mendapatkan bonus terbesar...jawab nya adalah." karna mereka terlebih dahulu bisa keluar dari zona nyamannya dan menerima,bekerja dan fokus pada tujuan akhir" sedangkan yang gagal jawaban sebaliknya.

    MLM dikatakan pyramide scheme semua bisnis di manapun juga adalah pyramid scheme contoh dalam bisnis sehari hari.anda bekerja sebagai karyawan diatas anda pasti ada atasan dan diatas atasan ada lagi yang paling atas manager diatas manager ada lagi posisi diatasnya.Bisakah anda menggantikan posisi top level pada perusahaan anda...jawabnya...bisa-bisa saja,tapi agak sulit kenapa sulit...mungkin butuh puluhan tahun bahkan mungkin sampai anda pensiun tidak akan tergantikan..Bukankah ini pyramid scheme.

    Sistem mlm bukan pyramid scheme pada saat anda joint di perusahaan anda bisa mencapai posisi top level,dan semua member bisa melakukan itu.tinggal "apakah anda bisa keluar dari zona nyaman anda,fokus pada tujuan akhirnya"jadi ini adalah bukan skema pyramid.

    jika anda ingin sukses di MLM,jangan lah menciptakan diri anda sebagai penjual/sales MLM jadilah pebisnis MLM yang profisional,bagaimana menjadi pebisnis profesional yang sukses.jawabnya adalah "mempelajari sistem plan dengan benar,dan keluar dari zona nyaman anda,selanjutnya fokus pada hasil akhir" maka dimanapun anda berada di perusahaan MLM yang mempunyai product yang terbagus atau terjelek bahkan sistem plan yang sulit dan mudah sekalipun maka anda pasti akan menjadi Juara.

    Tahukah Anda ?
    Yakinkah anda bisa menjual batu dijalan yang anda temui bisa berharga Rp.100.000 bahkan jutaan rupiah ?

    Kalau Anda Yakin bisa menjual berarti " Anda pasti bisa sukses dalam Bisnis Apapun Juga"

    Tapi Sebaliknya kalau anda selalu beralasan dan berkata tidak mungkin dalam jawabannya "maka selamanya juga sesuatu penolakan akan menghambat kesuksesan anda"

    KATAKAN BISA,MAKA PASTI AKAN BISA,KATAKAN TIDAK MAKA SEMUANYA AKAN TIDAK"

    BalasHapus
  4. Terima kasih pencerahan nya...
    Hari ini ada orang yg mati²an memprospek saya untuk bergabung dalam MLM...
    Tapi ada yg janggal disana...
    Anda benar,setiao kata yg Anda katakan semua nya benar...
    Dan saya tertawa terbahak² karena yg ada di artikel Anda sama persis seperti yg diucapkan orang yg memprospek saya tadi...

    Betapa bodohnya orang yg termakan kata² seperti itu...

    Saya tau jika ingin menghasilkan sesuatu,maka harus berjualan...
    Tapi apa yg mereka katakan??
    "Cari ANGGOTA saja sebanyak²nya"
    🤣🤣
    Mereka tidak mengatakan "Jualan saja sebanyak²nya"

    Dari situ saya langsung tau,bahwa MLM adalah hal terbodoh yg pernah ada...

    BalasHapus