Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Juni 2013

MLM : Pahami Sebelum Mengikuti

Pernahkah anda "diganggu" oleh kenalan ataupun keluarga yang dengan penuh semangat menawari anda bergabung dalam bisnis Multi Level Marketing (MLM)? Kalau tidak salah itu istilahnya "diprospek". Dan dari pengalaman pribadi saya, diprospek ini prosesnya jauh lebih menyebalkan daripada di-ospek. Saya pernah mendaftar menjadi anggota dalam bisnis ini karena terpaksa. Terpaksa karena bosan setiap hari diprospek kanan kiri. Kebetulan waktu itu ada sebuah bisnis MLM yang sedang booming. Biasanya pengenalan terhadap sebuah bisnis MLM diawali dengan cerita kesuksesan "si anu" yang punya rumah segitu dan mobil segini dalam waktu cuma beberapa anu. Cerita yang memancing rasa penasaran seperti itu merupakan senjata andalah para pejuang MLM. Setelah korban terpancing barulah niatan sebenarnya diungkap. Korban kemudian dilenakan dengan cerita-cerita sukses dan janji-janji muluk tentang keuntungan yang akan diraih. Jika anda terpikat, ya sudah, jangan salahkan bunda mengandung.

Untuk itu kali ini saya berniat untuk sedikit membuka kedok bisnis MLM. Hal ini berangkat dari kegerahan atas klaim dari beberapa pejuang MLM yang saya temui (ahh... kelihatannya saya berbakat jadi politikus yang selalu sok peduli, terutama menjelang pemilu). Saya akan mencoba memaparkannya sesederhana mungkin sehingga dapat dengan mudah dipahami (InsyaAllah) soalnya dari beberapa artikel yang membahas hal sejenis yang pernah saya baca, ada kesan sulit untuk dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu bisnis atau ekonomi.

Pertama-tama harus dibedakan dulu antara MLM dengan bisnis direct selling. Sekilas dari luar kedua bisnis ini terlihat mirip, tapi yakinlah, roh kedua bisnis ini berbeda jauh, sejauh hubungan kamu sama mantan yang sudah kawin. Dalam sebuah bisnis MLM, produk yang dijual hanya kamuflase dengan harga yang bisa dikatakan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan produk sejenis. Beberapa diantaranya merupakan produk yang diklaim memiliki manfaat bagi kesehatan padahal sama sekali belum teruji secara ilmiah. Satu lagi ciri khas yang sangat kental dalam bisnis ini adalah semangat yang tinggi dari anggotanya dalam mencari downline, bukan menjual produk. Semua peserta selalu berpikir "lebih baik mencari downline sebanyak-banyaknya, biar mereka yang berusaha, nanti saya tinggal ongkang-ongkang kaki". Akibatnya tujuan bisnis yang normal (etis), yaitu menjual produk dan mendapat profit dari aktivitas tersebut, jadi terabaikan sehingga bisnis ini lebih cenderung mengarah pada money game (hanya saja disertai produk yang dijadikan alat kamuflase). 

Sedangkan perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan eceran. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan menjual produk ke konsumen, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus. Tapi sayangnya beberapa perusahaan direct selling dengan salah kaprah telah difitnah dan bahkan memfitnah diri mereka sendiri sebagai perusahaan MLM meski secara bahasa hal ini tidak salah mengingat sistem penjualan yang juga berjenjang. Intinya, beda MLM dan direct selling adalah dari sisi sumber semangatnya. Pejuang MLM memiliki semangat dan tujuan untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya sedangkan pasukan direct selling bersemangat menjual produk sebanyak-banyaknya. Dan lagi, hampir semua produk MLM sebenarnya dibeli oleh anggota mereka, bukan pelanggan asli.

Dari perbedaan diatas dapat dilihat bagaimana sistem MLM pada akhirnya akan memakan korban, yaitu anggota yang bergabung belakangan. Keuntungan sudah pasti hanya terpusat pada mereka yang memasuki bisnis ini pada saat awal ketika bisnis belum berkembang. Untuk itu mari kita berasumsi jika dalam sebuah bisnis MLM setiap anggota diwajibkan merekrut lima anggota baru. Maka deret ukur yang muncul adalah sebagai berikut, 1, 5, 25, 125,.... dan pada level ke-13 kita akan menemukan angka 244.140.625,- Itu adalah jumlah penduduk Indonesia. Dan bila hitungan anda cukupkan sampai level ke-15 anda akan menemukan angka lebih dari 6 milyar. Luar biasa, padahal jumlah penduduk dunia pada 2013 diperkirakan 7,2 Milyar. Artinya MLM tersebut kekurangan stok manusia untuk mencari downline level ke-16. Itu berarti MLM memiliki titik jenuh yang pasti, walau pada kenyataannya belum ada satupun perusahaan MLM yang sempat mencapai titik jenuh ini, tetapi logikanya adalah seperti angka-angka yang saya sajikan diatas (terimakasih pada MS-Excel yang sangat memudahkan saya dalam melakukan perhitungan, tidak terbayangkan jika hitung-hitungan diatas harus saya lakukan secara manual). 

Salah satu pertanyaan terbesar dalam bisnis MLM adalah berapa persentase pejuang MLM yang meraih keuntungan dari bisnis ini? Mari kita sekali lagi berandai-andai. Berikut adalah sebuah ilustrasi matematika sederhana dari program distribusi 6 level yang mana setiap orang wajib merekrut 5 orang. Seorang partisipan akan mulai mendapatkan keuntungan setelah memiliki 2 level downline, yang berarti keuntungan baru bisa diperoleh saat sudah memiliki 30 downline (5+25 = 30 orang).

Ilustrasi:
Top Level: 1
Level #2: 5
Level #3: 25
Level #4: 125
Level #5: 625
Level #6: 3.125
Total 3.906 partisipan

Karena hanya anggota yang memiliki 2 level downline saja yang bisa untung, maka hanya partisipan level 1,2, 3 dan 4 yang akan mendapatkan keuntungan. Jumlah mereka (156/3906) kurang dari 4%. Persentase anggota yang kehilangan uang lebih dari 96%.

Hal ini akan tetap berlaku berapapun level yang ditambahkan. Kita akan dapat memastikan bahwa 96% anggota pasti akan rugi. Contoh, bila ilustrasi diatas ditambah 1 level (level #7), berarti ada tambahan 15.625 anggota. Peserta total akan menjadi 19.531. Jumlah anggota yang bisa mendapatkan keuntungan adalah 1+5+25+125+625=781 orang, tetap kurang dari 4% dibandingkan 19.531.

Benar-benar jenis bisnis yang bisa memberi kepastian, PASTI BANYAK YANG TEKOR!! Dan bukan cuma itu saudara-saudara, anggota baru yang "terjebak" memasuki bisnis MLM biasanya dibebani dengan semacam uang pendaftaran. Uang pendaftaran ini merupakan salah satu sumber pendapatan utama dan uang itu merupakan kerugian awal yang didapat oleh anggota yang bergabung belakangan. Seandainya setiap anggota baru dikutip Rp.50.000 saat pendaftaran, maka dengan menggunakan ilustrasi diatas mari kita kalikan jumlah dana yang terkumpul dari yang buntung (3750x50000=187,5Jt). Uang sebanyak Rp.187,5Jt  itu menguap entah kemana.

Apakah cukup sampai disana sistem yang jahat ini bekerja? Tentu tidak!! Masih ada kegiatan bisnis tambahan lain yang mendatangkan pemasukan sangat signifikan melalui bisnis tambahan yang antara lain dilakukan dengan mengadakan seminar motivasi yang dibarengi dengan penjualan buku, kaset, dll yang katanya merupakan trik untuk mencapai "kesuksesan". Uang pendaftaran untuk mengikuti seminarpun seringkali dibungkus dengan indah menggunakan kata "investasi". Investasi ini rata-rata berkisar pada angka Rp.500.000,-. Silahkan anda kalikan sendiri dengan angka ilustrasi yang kita gunakan diatas!! Fantastis!!

Fokus utama pelatihan dan seminar mereka adalah melatih, memotivasi, dan memberikan reward kepada anggota untuk merekrut lebih banyak anggota lainnya. Kenyataannya, mau ikut dalam ribuan pelatihan yang sama dengan ribuan motivasi yang sama dilanjutkan dengan membaca buku motivasi yang sama, dan menonton video motivasi yang sama, hasil yang diperoleh tidak akan sama. Semua sangat tergantung pada timing seseorang terlibat dalam bisnis ini. Tidak ada korelasi sama sekali dengan motivasi, semangat, ataupun pelatihan yang diikuti.

Trus, apa lagi borok yang harus dibongkar dari bisnis ini? Data saudaraku yang tercinta. Data yang mereka sajikan sebagai bahan motivasi bisa dikatakan merupakan dusta yang nyata. Mereka selalu menyajikan data pendapatan anggota bisnis mereka dengan merata-ratakan pendapatan segelintir orang yang berpendapatan besar dalam bisnis mereka dengan ribuan yang tidak mendapat apa-apa. Analoginya, coba anda kumpulkan 1000 orang gelandangan yang tinggal di bawah kolong jembatan untuk dihitung penghasilan rata-rata mereka, selanjutnya anda ikutkan Chairul Tanjung dalam perhitungan tersebut. Sudah pasti dari perhitungan tersebut akan muncul penghasilan rata-rata yang fantastis. Padahal kenyataannya cuma satu orang yang memiliki penghasilan luar biasa! Hal ini menimbulkan kesan seakan-akan anggota mereka rata-rata mendapatkan profit padahal dalam kenyataan mayoritas anggota tidak mendapatkan apa-apa. 

Selanjutnya hampir semua data yang dipresentasikan MLM mengabaikan biaya rata-rata ataupun pengeluaran seperti transportasi, telepon, perjalanan, pelatihan, ataupun ongkos pengiriman yang terjadi akibat mengoperasikan bisnis MLM. Dengan cara ini, “gross income” dicampuradukkan dengan “net profit”.

Mau tau sebuah fakta yang sangat mengejutkan? Survei dari Pyramid Scheme Alert menunjukkan bahwa peluang keberhasilan dalam bisnis MLM lebih kecil dibandingkan dengan peluang menang dalam beberapa jenis perjudian!! Lebih dari itu, dalam semua permainan judi dan lotere, peluang menang-kalah adalah bersifat acak, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Dalam bisnis MLM, peluang menang-kalah sangat ditentukan oleh posisi dan timing. Hanya mereka yang mengikuti program sejak awal, pemilik program, dan sejumlah kecil anggota yang akan mendapatkan keuntungan. Mereka berada di posisi di mana keuntungan sudah dipastikan ada setiap kali ada anggota baru yang masuk. Para pecundang, yaitu mereka yang masuk belakangan, tidak memiliki peluang sama sekali untuk menggantikan posisi mereka yang berada di atas.

Dari paparan diatas dapat kita lihat betapa jahatnya model bisnis seperti ini. Bahkan judi yang sudah pasti haram pun masih kalah mengerikan dibanding bisnis ini. Saya tidak berani memvonis bahwa MLM adalah bisnis yang haram. Akan tetapi, anda dapat memasukkan saya kedalam golongan orang-orang yang tak akan pernah terlibat dalam bisnis ini. Dan bagi anda yang masih tertarik untuk melakukan bisnis ini, silahkan saja. Tapi saya harap anda benar-benar paham dengan sistem yang dijalankan serta mengerti dengan peluang anda didalamnya. Perhitungan anda harus benar-benar matang dan tidak semata-mata terbuai dengan iming-iming bonus yang diberikan. Jika tidak, alih-alih investasi (seperti terminologi yang sering digunakan dalam bisnis ini untuk uang pendaftaran dan biaya seminar) anda akan tersesat ke ranah tak bertuan yang sangat mengerikan. MLM seringkali tak lebih dari money game hasil modifikasi dari Skema Ponzi dan Pyramid Game yang disembunyikan dengan penjualan produk sementara keuntungan yang dicari bukanlah melalui penjualan produk-produk yang ditawarkan. Hukum dinegara kita masih belum memberi perlindungan maksimal dibidang ini.

Terakhir, ada satu lagi kata-kata rayuan yang sering dilontarkan saat anda dibujuk masuk kedalam bisnis ini. Ketika anda terlihat sudah antipati dengan model bisnis seperti ini, si pembujuk akan berusaha meyakinkan anda bahwa bisnis MLM yang satu ini "lain". Bisnisnya berbeda dengan MLM-MLM lain yang pernah anda dengar. Percayalah, tak ada yang "lain" dalam bisnis ini. Roh dari bisnis ini tetap sama dari masa ke masa, hanya topengnya yang diganti-ganti. 

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dgn jalan yg batil (Q.S. An Nisa' : 29)


NB: Ada hal menarik dalam sebuah terminologi pada bisnis ini. Istilah downline seringkali disebut dengan istilah "kaki" dalam Bahasa Indonesia. Entah itu sebuah olok-olok pada anggota yang masuk belakangan karena mereka menjadi kaki. Kaki yang menopang beban tubuh secara keseluruhan, dalam hal ini mereka menanggung beban kerugian. Mereka adalah korban, ironisnya, seringkali mereka adalah korban dari harapan bahkan terkadang korban ketamakan diri mereka sendiri.

Jumat, 14 Juni 2013

Mereka Masih Bersyukur

Beberapa waktu yang lalu saat mengikuti sebuah diklat yang diselenggarakan di sebuah hotel ada kejadian yang menyadarkan saya akan arti syukur. Bukan hanya arti dari segi bahasa tapi (InsyaAllah) makna. Sebuah kejadian sederhana pada saat ishoma. Setelah waktu istirahat tiba, saya bergegas menuju mushala hotel untuk melaksanakan shalat zuhur. Disana saya melihat tiga orang tunadaksa dengan khusyuk melaksanakan shalat berjamaah dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka adalah peserta pelatihan bagi orang berkebutuhan khusus yang kebetulan diselenggarakan di hotel yang sama.

Lantas apa yang istimewa dari hal itu? Saya sulit untuk mendeskripsikan momen tersebut, tapi jika anda berada disana, saya kira anda juga akan terhanyut dengan apa yang terpampang di depan mata. Saya berasumsi dan berprasangka baik bahwa mereka adalah orang-orang yang bersyukur. Mereka melaksanakan dengan ikhlas hal yang dibebankan sebagai kewajiban bagi setiap muslim meski harus bersusah payah dalam melakukannya disaat banyak sekali orang yang mengaku muslim dengan kondisi tubuh sempurna melalaikan bahkan sama sekali meninggalkannya. Dan saya yakin jika ibadah merupakan salah satu wujud syukur kita kepada Yang Maha Kuasa. Dalam Islam setiap orang diwajibkan untuk bersyukur, tidak peduli seperti apa kondisi kehidupan yang dijalani selama apa yang dijalani bukanlah maksiat. Buktinya dalam Surat Ar-Rahman Allah SWT mengulang-ulang kalimat "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" sebanyak 31 kali. Ayat itu berlaku umum bagi setiap muslim, tak ada disyaratkan bahwa ayat itu hanya berlaku pada kondisi tertentu. Sesulit apapun kondisi kehidupan seorang muslim, ketika ia membaca Surat Ar-Rahman, pengertian dan perintah seperti itulah yang mereka terima, perintah untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, apapun kondisinya!

Apa yang saya lihat diatas benar-benar menyentuh bagi diri saya pribadi. Teringat akan shalat yang walau rutin saya kerjakan namun terkadang ada rasa terpaksa dalam melaksanakannya. Kurangnya nikmat dalam beribadah yang saya rasa dikarenakan kurangnya rasa syukur. Tiga orang yang saya lihat itu mungkin dari segi fisik mereka kurang dibanding kita, tetapi dari sisi iman, ketiga orang itu InsyaAllah lebih baik. Rasa syukur mereka InsyaAllah telah teruji, mereka tetap bersyukur dengan kekurangan yang "dianugerahkan" kepada mereka yang dibuktikan dengan ketaatan dalam beribadah.

Kemudian saya teringat pada dua orang sahabat Rasulullah SAW yang juga memiliki keterbatasan fisik. Yang pertama adalah Abdullah bin Ummi Maktum RA, beliau adalah seorang tunanetra. Hanya seorang tunanetra akan tetapi Rasulullah SAW memanggilnya dengan sebuah panggilan yang menurut saya teramat indah "Hai orang yang aku ditegur karenanya". Benar, ia adalah sahabat yang menyebabkan Rasulullah SAW mendapat teguran keras dari Allah SWT melalui Surat 'Abasa 1-16. Ceritanya, pada suatu ketika Rasulullah SAW menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan untuk masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Abdullah bin Ummi Maktum yang berharap agar Rasulullah SAW membacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullah SAW bermuka masam dan memalingkan muka dari Abdullah bin Ummi Maktum karena merasa pembicaraannya dengan para pemuka Quraisy jadi terganggu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah. Dan yang lebih dahsyat lagi mengenai Abdullah Bin Ummi Maktum RA ini adalah fakta bahwa beliau terlibat dan gugur sebagai syuhada dalam Pertempuran Qadisiyyah yang terkenal itu.

Yang kedua adalah Amr Bin Jamuh RA. Beliau memiliki keterbatasan fisik berupa kaki yang pincang. Saat Perang Badar beliau diberi kemudahan untuk tidak ikut berperang karena keterbatasan fisik dan usia tua. Akan tetapi saat Perang Uhud berkecamuk, beliau turut serta setelah diizinkan oleh Rasulullah SAW. Beliau adalah salah satu syuhada yang gugur di medan uhud.

Kedua orang sahabat tersebut boleh jadi memiliki keterbatasan tapi keutamaan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Posisi sebagai sahabat nabi saja sudah menempatkan mereka ditempat yang tinggi.

Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menandingi kualitas infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi sesudahnya (para tabi’in) kemudian generasi sesudahnya (para pengikut tabi’in)”. (Muttafaqun ‘alaihi)

 Dengan matanya yang buta Abdullah bin Ummi Maktum RA dapat melihat jalan ke surga lebih jelas dari kita yang tidak buta. Amr Bin Jamuh RA InsyaAllah berlari lebih cepat menggapai surga dibanding kita yang diberi fisik sempurna. Untuk cerita lebih lengkap tentang dua manusia luar biasa ini silakan anda cari dari berbagai sumber karena seperti biasa, saya malas berpanjang lebar bercerita.

Selanjutnya saya ingin memberi contoh yang berkebalikan dari hal diatas. Saya pernah mengenal seseorang (sebut saja bunga, terserah bunga apa meski agak aneh kalau ada pria bernama melati) yang berkeluh kesah dan menganggap Allah SWT tidak adil padanya. Dia protes dengan himpitan ekonomi yang dibebankan kepadanya. Dalam hati saya hanya bisa nyengir karena saya tahu pada saat diberi kelapangan, rezeki yang didapatkannya cuma dihabiskan untuk maksiat. Seharusnya ia bersyukur, dengan diberi cobaan berupa kekurangan rezeki berarti dia tidak bisa menambah pundi-pundi dosanya. Tuhan sayang padanya sehingga Tuhan menyelamatkannya dari dosa dengan cara yang unik. Untuk itu harusnya ia melakukan intropeksi diri dan  bersyukur.

Jadi, sekarang bagaimana kita? Sudahkah ada syukur itu? Bisakah contoh yang terpampang diatas kita jadikan cermin. Disaat syukur sudah menjadi barang yang teramat mahal dan tersembunyi, tertutupi oleh keluh kesah dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak dibutuhkan. Syukur yang lenyap dihembus keinginan-keinginan tak berujung yang sia-sia meski sering kali keinginan itu bukan kebutuhan, bahkan bukan merupakan kebutuhan pokok. Padahal sebenarnya kita sudah sering ditegur agar bersyukur. Teguran yang terkadang datang melalui hal-hal sepele seperti sariawan yang membuat hilangnya kenikmatan saat makan walau terhidang menu yang menggiurkan di depan mata. Atau teguran yang bersifat lebih serius seperti pengalaman saya diatas. Kita harus lebih sering bersyukur dengan segala nikmat yang seringkali tidak kita sadari yang kita dapatkan tanpa harus berdoa dan terkadang tanpa harus berusaha. Tapi begitulah sifat manusia umumnya, kurang menghargai apa yang dimiliki sementara dilain pihak banyak yang menginginkan hal itu tapi tidak bisa mendapatkannya.

Don't think of the things you didn't get after praying. Think of the countless blessings God gave you without asking. "Then which of the favours of Your Lord will you deny?"


NB: Saya menulis ini dengan rasa ngeri-ngeri sedap. Banyak menyenggol masalah agama yang saya sama sekali awam terhadapnya. Seandainya ada pendapat saya yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist, maka lemparkan pendapat saya kedinding dan anggap saja akal saya tidak berada ditempatnya saat itu!
Selalu tempatkan Dalil Naqli diatas Dalil Aqli, itu PRINSIP sebagai muslim.

Minggu, 02 Juni 2013

Karena Cinta Soal Rasa.....

Setelah beberapa tulisan yang agak sedikit serius sekarang saatnya tulisan yang ringan seringan kapas tapi menggalaukan (hehehehe...). Inspirasi menulis ini muncul setelah dialog iseng sama adek sepupu di twitter beberapa hari yang lalu. Intinya adalah pertarungan abadi antara logika dan perasaan dalam masalah cinta. Pergulatan tanpa akhir antara otak dan hati dalam menentukan pilihan. Mana yang harus didahulukan ketika cinta harus memilih (halaah... apaan coba!!), pilihan hatikah atau pilihan otak/pikiran? Dan agar tulisan ini semakin ringan dan ga bermutu maka instrumen yang digunakan dalam memilih cukup dibatasi antara logika dan perasaan. Saya tidak berani menyentuh wilayah agama karena nantinya akan menambah beban tulisan ketika yang bergulat adalah petunjuk Tuhan dengan godaan setan. (beraaat eeuuuyyy).



Teringat pada sebuah kata-kata (yang semoga) bijak yang saya juga lupa entah siapa yang mengucapkannya pertama kali.
"Pilihlah cintamu, kemudian cintailah pilihanmu". 
Teorinya emang gitu cuk tapi kebanyakan orang salah langkah dengan mencintai terlebih dahulu dan kemudian baru sadar kalo ternyata sudah salah pilih.

Karena memang cinta adalah soal rasa, biasanya orang yang sudah teramat dalam jatuh cintanya akan kehilangan logika. Meski harus menerjang gunung golok dan hutan pedang, walau harus menempuh gurun penuh singa dan berenang di kolam naga akan tetap diusahakan untuk mendapatkan sang pujaan hati. Lantas apa artinya bila cinta hanya mendatangkan sengsara dalam memperjuangkannya sedangkan didepan sana masih ada ribuan ketidakpastian saat cinta itu didapat! Masih belum ada jaminan bahwa setelah badai sengsara akan ada semilir bahagia (aawww.... awww... semakin galawww).

Saya yakin jika sebenarnya sesaat sebelum jatuh cinta sudah ada mekanisme alam bawah sadar yang dijalankan oleh logika dengan menyaring seluruh informasi tentang target operasi. Logika sudah berjalan dengan sebuah monolog didalam pikiran yang antara lain akan menimbang dengan pertanyaan, mungkinkah? bisakah? bagaimanakah? realistiskah? dan lain-lain. Setelah otak merasa ada "harapan" barulah ia menyampaikan kepada hati dan berkata "OK, sekarang kamu boleh mencoba untuk jatuh cinta".

Nahhh... setelah jatuh cinta terjadi, mau tidak mau, hati/perasaan akan memegang kendali. Analoginya mungkin seperti sebuah pertandingan tinju. Pikiran tak lebih dari seorang pelatih yang memiliki peran antara lain untuk memilihkan lawan yang dianggap sepadan dan dapat ditaklukkan oleh petinju didikannya dan memikirkan strategi agar petinjunya dapat memenangkan pertandingan (kenyataannya banyak petinju yang tidak mendengar masukan pelatihnya karena tergoda oleh iming-iming bayaran selangit yang ditawarkan promotor). Sedangkan si petinju adalah perasaan yang akan bertarung langsung di atas ring.

Setelah lawan ditemukan, maka urusan diatas ring sepenuhnya menjadi hak petinju yang terkadang karena terbawa emosi melupakan strategi yang telah ditetapkan oleh sang pelatih. Sementara dipinggir ring sang pelatih sudah berteriak-teriak panik memberi saran, masukan, dan peringatan yang mungkin sudah tidak lagi diindahkan oleh si petinju. Seandainya si petinju kalah dengan kondisi babak belur, gigi patah, berdarah-darah, si pelatih akan berkata "gue bilang jg ape, lu sih kaga mau dengerin omongan gue".

Seperti itulah yang terjadi ketika perasaan sudah menguasai, bagaimanapun logika memperingatkan akan tidak didengar lagi. Perasaan akan selalu mampu mencari alasan untuk memberi toleransi pada rasa sakit yang dirasa terutama dengan kata mutiara andalan "cinta adalah pengorbanan" (jiaaahhh... kl berkorban terus, lantas lu kapan bercintanya???). Ketika terlalu menuruti perasaan dan pada akhirnya setelah pengorbanan panjang ternyata ujung-ujungnya malah menjadi korban barulah logika nongol lagi sambil berkata "gue bilang jg ape, lu sih kaga mau dengerin omongan gue". Persis dengan kata-kata pelatih tinju tadi.

Trus gimana dong solusinya? Orang yang (merasa) bijaksana akan dengan enteng menjawab, harus ada keseimbangan antara hati dan pikiran. Tapi Demi Tuhaaaan!!! sulit sekali menentukan dimana lokasi titik tengah antara hati dan pikiran, mungkin berada dileher, tapi sayangnya leher takkan pernah bisa memberi jawaban! Idealnya pada tahap awal logika harus lebih dikedepankan untuk menimbang, mengingat, dan memutuskan. Setelah seluruh kriteria yang sudah ditetapkan logika terpenuhi barulah perasaan diberi kesempatan mengambil kendali dengan tetap berpedoman pada acuan yang telah ditetapkan oleh logika.

Tapi bagaimana dengan "cinta pada pandangan pertama?". Naahhh... ini nih yang jadi masalah. Untuk yang satu ini bisa dipastikan logika sudah tidak mendapat tempat. Sudah basah duluan sebelum hujan, jadi malas membawa payung. Perasaan sudah menang duluan, logika harap diam! Meski harus diakui bahwa cinta pada pandangan pertama hanyalah merupakan sebuah ketertarikan fisik yang menyengat, itu pasti! Tak ada yang salah dengan hal ini, tak ada salahnya memilih dengan fisik sebagai kriteria (walau kecantikan/ketampanan tidak menjamin kebahagiaan, tapi apa lu yakin kalo istri/suami lu jelek, lu bakal bahagia?? Paling banter lu cuma jadi filsuf amatir yg sibuk ngebahas ttg inner beauty). Saya pribadi akan mengambil sengatan love at first sight ini sebagai pertanda untuk mulai mengumpulkan data tentang "si penyengat". Setelah itu beri tempat pada logika untuk menimbang seluruh informasi yang sudah terkumpul. Jika logika menyetujui, maka lanjutkan. Jika logika tidak setuju, maka pendamlah dan cukupkan mengalir sebatas tatapan mata atau sebait puisi (Ohhh... yess!! klik disini --->contoh barang).

Kesimpulannya, karena cinta soal rasa maka dari itu biarkan perasaan yang memberikan keputusan akhir setelah melalui proses seleksi ketat dan pertimbangan yang matang dari logika. Apa gunanya memaksakan jalan cerita hanya karena logika berkata "iya" sementara perasaan tidak bisa menerima. Memang benar bahwa cinta bisa datang karena sudah terbiasa tapi "bisa" tidak sama dengan "pasti". Oleh karena itu, pada akhirnya biarkan perasaan yang memutuskan karena cinta soal rasa....

NB: Terkait untuk masalah jodoh, memang takdir sudah menentukan tapi tetap dibarengi usaha/ikhtiar yang logis. Akumulasi dari ikhtiar dan doa akan sangat menentukan meski terkadang hanya sebentuk usaha kecil semisal senyum yang terlontar dan doa yang sederhana saat berhenti di lampu merah (sapa tau pas ada malaikat lg nyebrang jalan dan denger tuh doa trus nyampein ke Tuhan). Masih ingat dengan butterfly effect kan? Just flap those wings!!!