Total Tayangan Halaman

Minggu, 06 Oktober 2013

Kita Hanyalah Vicky-Vicky Yang Belum Terekspos

Sudah cukup lama sejak tulisan terakhir saya publikasikan. Sebenarnya banyak topik-topik menarik yang bisa dibahas tapi saat malas sudah merajalela, tidak ada obat untuk menyembuhkannya. Padahal ada 11 draf tulisan yang antri untuk diselesaikan. Beberapa diantaranya mungkin tidak akan saya publikasikan karena sudah terasa basi dan yang lain saya rasa masih belum memuaskan dan belum layak untuk dipublikasikan.

Tulisan kali ini kembali ke khitah. Tulisan ringan. Kali ini saya hendak membahas kerancuan/kesalahan/salah kaprah dalam berbahasa. Inspirasinya berasal dari masalah sepele saat ngobrol dengan teman lewat sebuah aplikasi chatting. Saat sedang asyik-asyik ngobrol tiba-tiba aliran listrik di rumah saya terputus dan saya pun mengumpat. "aseeem... mati lampu disini". Dan jawabannya cukup kurang ajar "mati listrik woiii, bukan mati lampu" (heeh.. kepret *jitakin*).

Apakah ada yang salah dengan kalimat saya ketika mengatakan "mati lampu"? Saya rasa tidak, karena memang pada kenyataannya lampu yang ada di rumah saya mati semua. Kesalahan saya adalah ketika saya menyebutkan sebuah kejadian khusus untuk mewakili sebuah kejadian umum. Saya juga menggunakan sebuah (salah satu) akibat untuk menggambarkan sebab. Mati lampu merupakan sebuah akibat dari terputusnya aliran listrik.

Disamping fakta diatas, bahasa itu sendiri seringkali melibatkan rasa. Ungkapan "mati lampu" merupakan sebuah ungkapan umum yang sebenarnya sudah (dan mudah) dipahami. Ungkapan ini mungkin terlahir ketika pada zaman dahulu kala. Zaman ketika mayoritas penduduk negeri ini belum memiliki televisi, lemari es, pemanas listrik, komputer, dll yang membutuhkan listrik. Mereka hanya memiliki lampu sebagai satu-satunya alat yang membutuhkan listrik. Saya kira saat itulah istilah "mati lampu" dijadikan sebuah ungkapan untuk mewakili fakta terputusnya aliran listrik.

Pada zaman itu, mungkin mati lampu masih merupakan istilah yang relevan. Tapi untuk saat ini, sepertinya tidak. Akan tetapi bahasa bukan matematika, apalagi saat digunakan dalam situasi informal. Tidak ada batas yang jelas antara benar/salah, yang penting adalah maksud dari pesan yang dikirim dalam sebuah percakapan bisa tersampaikan dengan baik, walau belum tentu benar.

Kemudian iseng-iseng saya memperhatikan beberapa salah kaprah yang sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Contohnya "menanak nasi". Jika dipikir dengan logika, alangkah tololnya orang yang menanak nasi. Bukankah yang ditanak harusnya beras. Nasi adalah hasil yang didapat setelah beras berhasil ditanak. Tapi bukankah tidak ada masalah yang timbul ketika anda meminta pembantu untuk "menanak nasi" tapi yang ia lakukan adalah "menanak beras". Pesan yang anda berikan tetap tersampaikan dengan benar walau perintahnya salah. Bukankah hasilnya tetap seperti yang anda harapkan. Ini adalah contoh salah kaprah yang tidak bermasalah.

Kasus lain yang agak berbeda, contohnya, ketika seseorang menyebutkan "pipa besi" otomatis yang ada dalam pikiran anda adalah "pipa yang terbuat dari besi". Lantas jika ada orang yang menyebutkan "pipa minyak", apakah yang ada dalam pikiran anda adalah "pipa yang terbuat dari minyak"? Tentu tidak, yang anda pikirkan pastilah "sebuah pipa yang digunakan untuk mengalirkan minyak". Ini adalah bukti sahih bahwasanya bahasa tidak sekaku matematika, bahwa dalam bahasa kita melibatkan rasa.

Selanjutnya, saat saya membeli tiket pesawat untuk pulang kampung ataupun perjalanan dinas, saya selalu membeli "tiket PP" yang kepanjangannya adalah "tiket pulang-pergi". Logika paling tolol pun seharusnya tak akan bisa menerima, seharusnya itu adalah "tiket pergi-pulang". Untuk yang satu ini saya rasa tak perlu ada penjelasan lebih lanjut.

Kata "acuh" seringkali diartikan "tidak peduli". Demi Tuhan, anda keliru, "acuh" itu artinya "peduli". Perut saya mendadak mules jika dalam sebuah adegan percintaan dalam film saya mendengar seorang wanita berkata kepada kekasihnya "Sikap acuhmu sangat melukaiku". Benar-benar wanita yang aneh, artinya dia lebih suka dicuekin oleh kekasihnya, semakin cuek sang kekasih berarti semakin cinta! Dan bagi kaum pria, saya sarankan agar anda menjauhi wanita yang aneh seperti ini.

Selanjutnya ungkapan "diam tak bergeming", kekonyolan dalam ungkapan ini hanya akan membuat Allah, para malaikat, para rasul, beserta seluruh bidadari surga tertawa terbahak-bahak! "Bergeming" itu artinya "diam tidak bergerak". Lantas bagaimana cara memahami "diam tak bergeming"?
Mari kita uraikan;
Diam = tidak bergerak
Tak = tidak
Bergeming = diam tak bergerak
Diam tak bergeming = Tidak bergerak tidak diam tak bergerak
Daripada memikirkan yang satu ini, saya lebih baik gantung diri!

Kemudian kata "standarisasi' yang sering merajalela bahkan dalam bentuk tulisan formal. Percayalah, kata "standarisasi" tak akan pernah anda temukan dalam KBBI, yang ada adalah "standardisasi". Kata ini diserap dari kata Bahasa inggris "standardization".

Lanjut yang lain lagi, seringkali kita (termasuk saya untuk hal ini) bertanya "sekarang jam berapa?". Sebenarnya ini keliru karena kata "jam" digunakan untuk "menunjukkan lamanya waktu" sedangkan untuk menunjukkan waktu, kata yang tepat adalah "pukul". Jadi, kalimat yang benar adalah "sekarang pukul berapa?". Penggunaan kata "jam" yang tepat adalah, contoh, "saya membutuhkan waktu tiga jam untuk menyelesaikan pekerjaan itu".

Dan saudara-saudaraku tercinta, hal yang lebih konyol lagi adalah ketika kita dengan semena-mena menggunakan konsep waktu untuk menggambarkan/mengukur jarak. Contoh, ketika ada yang bertanya berapa jarak dari rumah saya ke kantor, dengan tanpa dosa saya akan menjawab "kira-kira 20 menit". Sejak kapan menit digunakan sebagai ukuran jarak? Padahal ketika ada yang menanyakan berapa lama jam kerja saya dalam sehari, takkan pernah terlontar jawaban "kurang lebih 3 kilometer". Atau ketika ada yang bertanya berapa berat badan saya, tak pernah terlintas dipikiran saya untuk menjawab "kira-kira 5 kilometer lah".

Selanjutnya, pernahkah anda menggunakan kata "nuansa"? Saya yakin, sebagian besar orang berpikiran bahwa arti kata nuansa adalah suasana. Misalnya, ada orang dengan wajah polos mengucapkan kalimat "nuansa romantisnya terasa sangat kental". Keliru boi, nuansa itu artinya adalah "variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tentang warna, suara, kualitas, dsb). Saya cukup lama bergelimang dosa karena keliru dalam menggunakan kata yang satu ini. Sekaranglah saatnya untuk melakukan taubatan nasuha (tobat yang sebenar-benarnya) dari kesalahan kita memperkosa kata ini.

Terakhir, apakah anda tahu dan pernah mendengar sebuah lagu dari Dewa yang berjudul Roman Picisan. Saya sangat menyukai lagu ini, benar-benar suka. Tapi ada yang menjadi ganjalan dalam hati saya saat mendengar liriknya. Coba baca lirik pada kalimat pertama. "Tatap matamu bagai busur panah yang kau lepaskan ke jantung hatiku". Padahal sepanjang sejarah dunia yang dihiasi berbagai peperangan, belum pernah ada satu prajurit ataupun ksatria yang melepaskan busur ke arah musuh. Busur adalah alat yang digunakan untuk melesatkan anak panah. Jadi, seharusnya yang benar adalah "Tatap matamu bagai anak panah yang kau lepaskan ke jantung hatiku". Oleh karena itu, jika ada seseorang yang melepaskan busur atau menancapkannya ke dada musuh, berarti ia sudah benar-benar kehabisan senjata dan sudah benar-benar putus asa dan sedang dalam tindakan memberi perlawanan terakhir sebelum gugur.

Kesalahan/kerancuan berbahasa seperti contoh diatas hanyalah sekelumit kekeliruan yang sering kita temui dalam percakapan sehari-hari. Masih banyak contoh lain bertebaran yang menyakitkan telinga saat kita mendengarnya dan melukai mata saat kita membacanya. Beberapa adalah hal yang masih bisa ditoleransi dan sebenarnya bukanlah masalah berarti. Akan tetapi ada yang harus segera diluruskan agar anda tak terlihat konyol saat menggunakannya. Dan besar kemungkinan jika tulisan dalam blog saya juga memiliki banyak kesalahan gramatikal. Boleh kok dikritisi melalui kolom komentar. Kritik yang membangun yang akan meningkatkan kualitas perangkat bahasa yang kita miliki.


NB: Sebuah cerita kecil dari masa lalu terlintas dalam ingatan saat saya sedang gagah-gagahan menulis tentang bahasa di blog ini. Saya tersenyum pahit mengingat sejarah saya yang kelam dalam dunia bahasa. Pada satu waktu dimasa lalu nilai Bahasa Indonesia saya di rapor adalah 5, ironisnya pada saat bersamaan Bahasa Inggris saya 8. Masih terbayang tatapan garang mama tercinta yang seakan-akan hendak menelan saya bulat-bulat melihat angka 5 itu. Mama yang berprofesi sebagai guru, Guru Bahasa Indonesia pada sebuah sekolah unggulan di Kota Jambi.

Minggu, 18 Agustus 2013

Bagaimana Menyikapi Peristiwa Di Mesir

Untuk tulisan kali ini, diawal saya akan terlebih dahulu memohon kepada para pembaca untuk dapat membaca dengan pikiran yang jernih dan lepas dari segala kepentingan kelompok ataupun taklid terhadap individu tertentu. Saya mohon agar ada kesepakatan terlebih dahulu bahwa dalam menyikapi hal ini ada dua pegangan yang kita sepakati dengan sepenuh hati, yaitu Al Quran dan Hadits. Mari kita sepakat bahwa dalil dan hujjah yang shahih adalah jalan yang kita pilih. 

Tulisan kali ini muncul dari keprihatinan saya terhadap apa yang sedang terjadi di Mesir. Tapi perlu saya tekankan disini bahwa saya tidak memiliki kepentingan apapun dan saya juga tidak berafiliasi dengan kelompok manapun, terutama kelompok-kelompok yang sedang bertikai di Mesir. Sejujurnya, tema yang diangkat masih terlalu berat bagi saya dengan berbagai keterbatasan terutama keterbatasan ilmu. Tulisan ini insha Allah saya sandarkan pada dalil dan hujjah yang shahih dari berbagai sumber yang saya coba mengumpulkannya dengan menarik sehelai benang merah yang menyatukan keping-keping puzzle dari permasalahan yang terjadi.

Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan sia-sia akibat konflik di Mesir. Pihak-pihak yang bertikai saling klaim sebagai pihak yang benar. Entahlah, jika masalah mana yang benar mana yang salah ini terus dikaji kebelakang, masalah yang nyata terjadi saat ini tak akan pernah selesai. Jika klaim sebagai pihak yang berhak memegang tampuk kekuasaan terus dirunut kebelakang, kita harus mundur sampai kemana? Dan jika proses saling kudeta dan saling demo ini terus berlanjut, lantas kapan berhentinya? 

Ingatlah saudara-saudaraku, Mesir bukan hanya milik kalian yang bertikai. Apakah kalian yakin dari 80 juta penduduk Mesir itu tergabung dalam kelompok-kelompok tersebut? Anggaplah masing-masing kelompok memiliki pendukung sebanyak 10 juta orang, berarti disana masih ada 60 juta jiwa tak berdosa yang terkena imbas perebutan kekuasaan antara dua kelompok (dengan jumlah 20 juta orang). Lantas dengan ringan kalian mengatasnamakan rakyat tak berdosa sebanyak 60 juta jiwa itu sebagai rakyat yang kalian perjuangkan nasibnya. Apakah kalian pernah bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar ingin agar kalian memperjuangkan nasibnya?

Marilah saudara-saudaraku yang sedang bertikai, aku harap salah satu kelompok mampu untuk mengalah. Demi masyarakat, demi ummat, bukankah kalian hendak memperjuangkan nasib mereka agar menjadi lebih baik. Insha Allah, itulah jalan yang sesuai dengan syariat. Bukankah kita sebagai muslim jika berselisih tentang sesuatu diperintahkan untuk mengembalikannya kepada Al-Quran dan As Sunnah?
Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ : 59]
Lantas bagaimana menurut Al Quran dan As Sunnah? Sebenarnya solusi masalah ini secara syar'i sangat sederhana, biarkan saja siapa yang berkuasa saat ini menjalankan pemerintahan hingga tercapai stabilitas di negeri Mesir. Saya TIDAK MEMBENARKAN tindakan kudeta yang dilakukan oleh pihak militer Mesir terhadap pemerintah sebelumnya, apa yang mereka lakukan adalah kebatilan. Akan tetapi setelah mereka berkuasa maka wajib bagi kita untuk diam, walaupun boleh kita menuntut dikembalikannya kekuasaan kepada yang berhak tetapi dengan cara yang syar’i, bukan dengan cara mengerahkan masa dan menduduki berbagai fasilitas umum.

Permasalahannya, dengan demonstrasi ini, kalian memenuhi lapangan-lapangan dengan laki-laki dan wanita, dan terjadilah penindasan, pembunuhan dan pelanggaran kehormatan, serta ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita, apakah ini dari agama Allah?! Bertakwalah kepada Allah, kembalilah ke rumah-rumah kalian dan tetap tinggal di rumah-rumah kalian, daripada berteriak-teriak di jalanan. 

Saat tulisan ini ditulis, masih pihak militer yang berkuasa di bumi Mesir. Saat tulisan ini ditulis, merekalah penguasa resmi di bumi Mesir. Mungkin mereka zalim, mungkin mereka korup, mungkin mereka tidak berpegang pada petunjuk Rasulullah. Tapi sudahlah, hentikanlah huru-hara di bumi Mesir yang secara umum hanya menyengsarakan ummat. Taati saja penguasa yang yang ada saat ini, Insha Allah hal inilah yang sesuai dengan syariat.
Wahai orang-orang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan Ulil Amri di antara kalian (QS. An Nisa : 59)
Akan tetapi ketaatan terhadap Ulil Amri tetap memiliki batas, yaitu selama hal itu bukanlah perintah untuk berbuat maksiat. Penjabaran terhadap hal tersebut banyak termuat dalam berbagai hadist yang Insha Allah shahih. Dan berdasarkan sunnah, kezaliman seorang penguasa/pemimpin tidaklah mencabut kewajiban untuk mentaati mereka.

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/umaraa’) pada apa-apa yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila penguasa itu menyuruh untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat”
[HR. Al-Bukhari no. 2955,7144; Muslim no. 1839; Tirmidzi no. 1707; Ibnu Majah no. 2864;]
Dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian juga mendoakan mereka. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah tidakkah kami melawannya dengan pedang?” Rasulullah menjawab: “Jangan, selama mereka masih shalat bersama kalian. Jika kalian melihat pemimpin kalian melakukan perbuatan yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya, dan jangan angkat tangan kalian dari ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim No. 1755, Ahmad No. 24027, . Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16400, Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 116, 117, Ad Darimi No. 2797) 
“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia telah mentaati Allah, barangsiapa yang membangkang kepadaku maka dia telah membangkang kepada Allah. Dan barang siapa yang mentaati pemimpinku (yakni pemimpin yang Rasul tunjuk) maka dia telah mentaatiku, dan barang siapa yang membangkang kepada pemimpinku maka dia telah membangkang kepadaku.” (HR. Bukhari No. 7137 dan Muslim No.1835)
“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847). 
“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu: pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudh” [HR. Al-Bukhari no. 7057 dan Muslim no. 1845] 
Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14).


Dari beberapa dalil diatas, dapat kita lihat bahwa ketaatan terhadap pemimpin/penguasa adalah wajib. Insha Allah beberapa hadist yang saya nukil diatas memiliki derajat shahih. Seandainya anda menolak hadist tersebut tidak mengapa. Imam Al Bukhari saja menolak ratusan ribu hadist, tapi beliau menolak dengan ilmu. Beliau menolak dengan mengkaji hadist tersebut dari sisi sanad dan matannya. Bukan berdasarkan mana yang beliau suka ataupun mana yang masuk diakal (logika). Akan tetapi jika anda menolak karena tidak sesuai dengan kepentingan, keinginan, atau logika, berarti jalan kita berbeda. Agama ini tidak berdiri diatas rasa suka atau tidak suka anda terhadap aturan yang ada, dan agama ini juga tidak dilandaskan pada logika semata.
Hadits Ali bin Abi Thalib RA :
“Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah Shalallahu Alahi Wassalam mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Daud No. 162)
Kembali pada permasalahan yang sedang terjadi di Mesir. Marilah saudara-saudaraku, kita hentikan segala kebodohan yang terjadi. Taati saja pemimpin yang sedang berkuasa saat ini. Bagi kelompok yang merasa dirugikan, percayalah, kalian tak akan rugi jika mengalah. Berpikir dan bertindaklah dengan memikirkan kemaslahatan kaum muslimin secara keseluruhan. Bukan hanya sekedar untuk kepentingan kelompok.

Lupakah kalian dengan kisah Hasan bin Ali RA yang dengan segala keikhlasan menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan RA, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib RA. Apakah Mu'awiyah bin Abu Sufyan RA lebih baik dari cucu baginda nabi? 
Dari Al-Hasan , dia mendengar Abu Bakrah berkata: “Aku mendengar (ceramah) Nabi di atas mimbar, sedangkan Al-Hasan berada di sampingnya, beliau sesekali melihat kepada manusia dan sesekali kepada Al-Hasan, dan bersabda:
“Anakku ini adalah sayyid dan semoga Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok dari kalangan muslimin.” (HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari, VII, hal. 463, hadits no. 3746)
“Al-Hasan dan Al-Husain adalah sayyid (penghulu) para pemuda ahlul jannah.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari Abu Sa’id Al-Khudri; Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani t dalam Silsilah Hadits Ash-Shahihah, hal. 423, hadits no. 796)
Berkacalah pada manusia utama ini, inilah yang benar-benar pantas disebut dengan bertindak DEMI UMMAT. Beliau dengan besar hati mengalah untuk menghindari pertumpahan darah diantara kaum muslimin. Apakah beliau menjadi tercela dengan tindakannya? Tidak saudaraku, kemuliaan beliau sama sekali tidak berkurang!

Atau lupakah kalian dengan cerita ketaatan sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghifari RA terhadap Khalifah Utsman Bin Affan RA ketika beliau diperintahkan untuk pindah ke tanah tandus rabadzah akibat pertentangan yang terjadi antara mereka? Apakah Abu Dzar membangkang perintah Amirul Mukminin pada saat itu? Tidak saudaraku, beliau mematuhi dengan ikhlas sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah tentang bagaimana cara bersikap terhadap pemimpin.

Atau kalian belum mendengar tentang kesabaran Imam Ahmad Bin Hambal yang dianiaya oleh tiga khalifah karena menolak mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk? Al Ma'mun, khalifah yang pertama kali terkontaminasi oleh paham sesat tersebut merupakan seorang pemimpin yang zalim. Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan Alquran, al-Ma'mun sampai mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Imam Ahmad tetap konsisten memegang pendapat yang hak bahwa Alquran itu kalamullah bukan makhluk. Apakah beliau mengeluarkan fatwa agar ummat mengangkat senjata terhadap khalifah yang sesat tersebut? Sama sekali tidak saudara-saudaraku, beliau memilih untuk bersabar, meskipun dibelakang beliau puluhan ribu rakyat siap mengangkat senjata bila beliau memerintahkan. Beliau bertindak sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah.

Jika kita berbicara tentang kedalaman pemahaman terhadap Islam, saya berani menjamin tak satupun makhluk hidup di muka bumi saat ini yang memiliki pemahaman lebih baik dibanding ketiga manusia luar biasa diatas. Lantas celah mana lagi yang hendak kalian gunakan ketika menjadikan agama sebagai tameng? Ummat mana lagi yang hendak kalian jadikan alasan untuk diperjuangkan? Sementara dari hari ke hari darah terus akan mengalir di bumi Mesir. Apakah kalian hendak menunggu hingga laut merah benar-benar berwarna merah oleh aliran darah kaum muslimin?

Demi Allah, saya tidak memiliki kepentingan apapun dalam hal ini dan tidak mendukung salah satu kelompok yang bertikai. Saya paham bahwa tulisan ini sedikitpun tak akan mengubah apa yang terjadi di Mesir. Sama dengan tindakan kalian yang turun ke jalan-jalan dengan bermacam-macam aksi peduli yang tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap Mesir. Sama dengan tindakan kalian yang mengutuk kebiadaban rezim militer Mesir saat ini melalui media sosial dll. Kalian mengutuk rezim yang kejam sambil memberi semangat pada "perjuangan" para demonstran di sana. Apa kalian tidak melihat ironi dalam hal ini, kalian menganjurkan saudara kalian sesama kaum muslimin untuk mati! Bukankah kalian sudah memahami betapa kejamnya rezim tersebut!

Sadarlah saudaraku, tempuhlah jalan yang sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah dalam menghadapi penguasa yang zalim. Bukan dengan tindakan khuruj terhadap penguasa yang sia-sia. Bukan karena kepentingan kelompok ataupun individu tertentu. Hentikanlah saudaraku, mari kita doakan agar masalah yang terjadi dapat dengan cepat diselesaikan, terserah siapapun yang naik ketampuk kekuasaan. Semoga salah satu pihak memiliki jiwa besar untuk mengalah, demi kepentingan Kaum Muslimin!!

NB : Saya menulis hal ini dengan perasaan malu. Masih terlalu jauh rasanya untuk petantang petenteng membahas masalah seperti ini. Tapi saya mencoba untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Selain itu, agama adalah nasehat, saya hanya menyampaikan. Seandainya ada kekeliruan yang saya lakukan dalam mengutip ayat maupun hadist, tolong benarkan. Jika Pemahaman saya keliru, tolong betulkan. Dan seandainya ada tulisan diatas yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah, maka silakan dicampakkan.

Berikut dua dalil  tambahan yang saya kira terkait dengan permasalahan diatas. Saya kesulitan untuk menempatkannya dalam posisi yang tepat didalam tulisan.

“Janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melihat pemimpinnya ada sesuatu yang dibencinya, maka hendaknya dia bersabar, sebab barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal lalu dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Bukhari No. 7054 dan Muslim No. 1849)

Minggu, 14 Juli 2013

Apakah Harus Dinar/Dirham?

Ekonomi syariah, anda pasti sering mendengar atau membaca terminologi ini. Digadang-gadang sebagai sebuah solusi paling top dalam mengatasi permasalahan perekonomian yang ada. Tapi sayangnya semua masih sebatas wacana. Dalam kondisi perekonomian dunia seperti saat ini yang saling terkait secara global, penerapannya masih terbatas pada angan-angan, paling banter yang bisa dilakukan adalah penerapannya secara sektoral. Jangankan untuk bicara penerapannya secara global, bahkan untuk menerapkannya pada negara-negara Islam ataupun negara dengan mayoritas muslim masih sangat sulit.

Kali ini saya tidak akan membahas masalah ekonomi syariah secara luas karena sejujurnya pemahaman saya akan masalah ini masih sangat terbatas. Saya hanya ingin membahas masalah ini dari satu sudut sempit yaitu alat tukar yang akan digunakan dalam ekonomi syariah. Banyak disebut-sebut tentang penggunaan dinar/dirham sebagai bagian tak terpisahkan dalam ekonomi syariah. Dinar/dirham dikatakan memiliki nilai yang stabil dari waktu ke waktu. 

Hal ini tidak sepenuhnya salah. Nilai intrinsik yang terkandung dalam emas/perak memang memungkinkan untuk itu. Tapi percayalah, itu semua tidak menjamin bahwa jumlah suatu barang/jasa yang bisa diperoleh dengan emas/perak akan memiliki kuantitas yang tetap selamanya. Sering saya mendengar gembar-gembor dari penggiat ekonomi syariah tentang kestabilan nilai emas/perak sejak dulu kala hingga saat ini. Benarkah demikian? Apakah sesederhana itu?

Mari kita lihat sebuah pengandaian yang sangat sederhana. Misalkan dalam sebuah perekonomian sebuah negara terdapat 1000 dinar yang beredar dan jumlah barang/jasa yang dihasilkan juga berjumlah 1000, maka hitungan paling gobloknya adalah bahwa harga setiap 1 (satu) barang/jasa yang dihasilkan adalah 1 (satu) dinar.
Selanjutnya, apa yang akan terjadi seandainya terjadi kenaikan produksi barang/jasa menjadi 1200 sementara jumlah dinar yang beredar tetap 1000? Maka sudah pasti akan terjadi deflasi. Harga satuan barang/jasa akan turun dari 1 dinar menjadi 0,83 dinar.

Sebaliknya, jika ternyata pemerintah mengedarkan lebih banyak dinar menjadi 1200 dinar sementara jumlah barang/jasa yang diproduksi negara tersebut tetap 1000, maka akan terjadi inflasi. Harga satuan barang/jasa yang dihasilkan akan meningkat menjadi 1,2 dinar.

Dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa pada kenyataannya nilai dinar/dirham tetap tidak sestabil yang dibayangkan. Semua tetap tergantung pada keseimbangan antara pasar barang dan pasar uang. Dinar tersebut baru bisa memiliki nilai yang 100% stabil seandainya keseimbangan antara dinar yang beredar dengan jumlah produksi barang/jasa tetap terjaga. Dan sekali lagi saya tekankan bahwa ilustrasi diatas merupakan PENYEDERHANAAN yang sangat sangat sederhana. Dalam kenyataan tentu saja harga barang/jasa dipengaruhi banyak hal. Suatu barang/jasa, bisa saja mengalami kenaikan harga akibat kenaikan permintaan atau karena dorongan kenaikan biaya produksi.

Masalah selanjutnya dalam penggunaan dinar/dirham adalah jumlahnya yang terbatas. Seperti tergambar pada ilustrasi diatas, seandainya pemerintah hendak mempertahankan kestabilan nilai dinar/dirham maka ketika terjadi kenaikan produksi barang/jasa, pemerintah harus menyediakan suplai dinar/dirham dengan jumlah sebanding. Pertanyaannya, apakah setiap negara mampu melakukan hal itu, padahal seperti kita ketahui bahwa tidak semua negara memiliki tanah yang mengandung cukup cadangan emas. Lantas bagaimana penerapan eknomi syariah pada negara-negara seperti ini? Apakah mereka tidak boleh/bisa menerapkan ekonomi syariah meskipun katakanlah negara tersebut adalah sebuah negara Islam.

Selain masalah diatas, masih ada masalah lain yang akan muncul pada level yang sangat teknis. Apakah anda yakin akan membawa dinar/dirham dalam bentuk emas/perak kemana-mana? Mungkin akan cukup mudah ketika anda hendak membeli sebuah gadget model terbaru dengan menggunakan dinar/dirham tersebut tapi bagaimana jika anda hendak membeli sebutir permen? Berapa dinar yang harus anda bayar dan bayangkan sekecil apa dinar tersebut? Atau bayangkan saat anda hendak membeli rumah, berapa dinar yang harus anda bayar dan bagaimana cara anda membawa dinar/dirham sebanyak itu?

Jika anda menjawab bahwa dinar/dirhamnya tidak dibawa kemana-mana tapi disimpan pada sebuah lembaga yang mengeluarkan secarik sertifikat sebagai bukti kepemilikan dinar/dirham. Uupps... Anda sudah bicara tentang asal mula terciptanya uang dan bank. Sertifikat itu adalah nenek moyangnya uang dan lembaga tersebut merupakan nenek moyang bank konvensional.  Dan pastinya lembaga tadi butuh pemasukan untuk menjalankan kegiatannya dan anda sebagai pengguna akan ditarik biaya karena menggunakan jasa lembaga tersebut. Meskipun lembaga tersebut dikelola oleh pemerintah saya berani memastikan bahwa anda tetap akan dikenakan biaya. 

Lantas dimana esensi dan urgensi penggunaan dinar/dirham dalam perekonomian? Sejauh ini saya belum menemukan sebuah dalil yang mewajibkan penggunaan dinar/dirham sebagai alat tukar perdagangan dalam sebuah sistem perekonomian berbasis syariah. Untuk sementara saya simpulkan bahwa tidak ada korelasi sama sekali antara penggunaan dinar/dirham dengan penerapan ekonomi syariah. Untuk itu masalah yang paling mendasar untuk diangkat dalam ekonomi syariah bukanlah tentang alat tukar yang digunakan akan tetapi sistemnya. Sistem yang saya maksud disini adalah sistem riba yang diterapkan dalam perekonomian secara global. Hal inilah yang harus diubah dan diganti. Tapi bicara memang sangat gampang sedangkan untuk melaksanakannya luar biasa sulit untuk saat ini (saya mencoba menghindari kata "mustahil").

Permasalahan sebenarnya dalam sistem perekonomian saat ini bukanlah pada alat tukar yang digunakan tapi lebih pada sistem ribawi yang dijalankan. Sistem ribawi ini lah yang yang menyebabkan inflasi menjadi sebuah kepastian. Sistem ribawi ini lah yang menjadikan krisis ekonomi merupakan sebuah siklus yang pasti akan terjadi dan selalu terulang.

Sebagai gambaran, mari kita lihat satu lagi ilustrasi sederhana sebagai berikut;

Anggaplah terdapat 4 orang yaitu A, B, C, dan D. Mereka membentuk sebuah negara (sebut saja negara X). 
A adalah tukang kayu
B adalah petani
C adalah peternak ayam
D adalah penjahit

Pada mulanya mereka melakukan perdagangan dengan sistem barter. Lama kelamaan muncul kesulitan ketika, contoh, tidak setiap hari A, B, dan C membutuhkan pakaian hasil produksi D. Selanjutnya juga terjadi kesulitan saat menentukan berapa banyak beras hasil produksi B harus ditukar dengan ayam hasil produksi C ketika jumlah produksi mereka dalam setahun berfluktuasi. Masalah lainnya muncul ketika pada suatu waktu B dan C tidak membutuhkan barang hasil produksi A. Dilain pihak A setiap hari akan membutuhkan barang yang diproduksi oleh B dan C.

Tiba-tiba, pada suatu hari muncul E yang datang ke negara X menawarkan sebuah solusi kepada mereka. Ia membawa sekantong emas/dinar. E menyarankan agar mereka menggunakan emas tersebut sebagai alat tukar untuk mempermudah transaksi. Mereka pun sepakat. sebagai modal awal, E membagikan/meminjamkan pada masing-masing mereka 100 dinar dan sebagai imbalan mereka akan mengembalikan emas sebanyak 110 dinar kepada E. Ada bunga sebanyak 10% disana. Sebuah sistem perekonomian ribawi baru saja terbentuk.  

Setelah satu tahun, maka tibalah saatnya bagi A, B, C, dan D untuk membayar hutang mereka kepada E. Dalam jangka waktu satu tahun A dan B masing-masing mendapatkan keuntungan sebanyak 20 dinar sehingga mereka masing-masing memiliki uang sebanyak 120 dinar. Setelah membayar hutang berikut bunga sebanyak 110 dinar mereka masing-masing masih mengantongi 10 dinar dari keuntungan perdagangan yang mereka dapatkan. Dilain pihak C dan D tidak memiliki cukup dinar untuk melunasi hutangnya karena masing-masing mengalami kerugian sebanyak 20 dinar yang berarti uang mereka masing-masing hanya tersisa 80 dinar padahal hutang berikut bunga yang harus mereka bayar masing-masing adalah 110 dinar.

Lantas dari mana mereka harus mendapatkan uang untuk membayar total kekurangan sebesar 60 dinar? Meskipun C dan D meminjam kepada A dan B, total uang yang ada ditangan A dan B hanya 20 dinar sedangkan total hutang C dan D berikut bunga adalah 60 dinar! Kemana mereka harus mencari sisa kekurangan sebanyak 40 dinar sementara uang 40 dinar tersebut memang tak pernah ada.

Itu berarti hutang sebuah komunitas dalam perekonomian ribawi tak akan bisa dilunasi meskipun seluruh uang yang beredar dikumpulkan. Bunga sebanyak 10% tadi tak akan pernah bisa dilunasi karena uang 10% tersebut tak pernah ada! Uang 10% tersebut tercipta tapi wujudnya tak pernah ada.

Ilustrasi diatas hanyalah contoh paling sederhana dari biadabnya sistem riba. Dari contoh yang sederhana itu, coba anda bayangkan saat diterapkan pada sebuah negara. Masyarakat akan terjebak dalam sebuah sistem dimana mereka memang dibuat untuk tidak bisa melunasi hutangnya. Hanya akan ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang bisa lepas dari hutang tetapi dilain pihak akan lebih banyak yang menjadi korban yang terjebak dalam hutang tak berujung. Pemerataan kesejahteraan hanyalah omong kosong dalam sistem ini.

Sebagai penutup dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa dalam penerapan sebuah sistem perekonomian syariah yang terpenting bukanlah jenis alat tukar yang digunakan akan tetapi jenis sistem yang digunakan. Dari contoh negara X diatas bukankah mereka menggunakan dinar/emas sebagai alat tukar. Tapi hasilnya akhirnya sama saja dengan sistem perekonomian yang tidak menggunakan dinar sebagai alat tukar. Inti permasalahannya adalah sistem riba yang diterapkan! Selanjutnya pembahasan tentang sistem riba ini Insya Allah akan saya lanjutkan pada tulisan lain karena akan terlalu panjang dan melenceng dari judul diatas yang hanya membahas mengenai urgensi penggunaan dinar/dirham sebagai alat tukar.


NB: Diluar semua paparan diatas, saya masih takjub dengan pengaruh sihir yang dimiliki oleh emas/perak terhadap manusia dan peradaban. Entah bagaimana caranya. sejak zaman dahulu kala sudah terdapat kesepakatan tak tertulis antara anak cucu Adam di kolong langit bahwa emas/perak adalah benda berharga, bahkan negara-negara kaya pun masih tetap menumpuk cadangan emas/perak. Mungkin alasannya sangat sederhana, Sunatullah!

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita2, anak2, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang2 ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. 
[Q.S. Ali 'Imran: 14]

Jumat, 28 Juni 2013

MLM : Pahami Sebelum Mengikuti

Pernahkah anda "diganggu" oleh kenalan ataupun keluarga yang dengan penuh semangat menawari anda bergabung dalam bisnis Multi Level Marketing (MLM)? Kalau tidak salah itu istilahnya "diprospek". Dan dari pengalaman pribadi saya, diprospek ini prosesnya jauh lebih menyebalkan daripada di-ospek. Saya pernah mendaftar menjadi anggota dalam bisnis ini karena terpaksa. Terpaksa karena bosan setiap hari diprospek kanan kiri. Kebetulan waktu itu ada sebuah bisnis MLM yang sedang booming. Biasanya pengenalan terhadap sebuah bisnis MLM diawali dengan cerita kesuksesan "si anu" yang punya rumah segitu dan mobil segini dalam waktu cuma beberapa anu. Cerita yang memancing rasa penasaran seperti itu merupakan senjata andalah para pejuang MLM. Setelah korban terpancing barulah niatan sebenarnya diungkap. Korban kemudian dilenakan dengan cerita-cerita sukses dan janji-janji muluk tentang keuntungan yang akan diraih. Jika anda terpikat, ya sudah, jangan salahkan bunda mengandung.

Untuk itu kali ini saya berniat untuk sedikit membuka kedok bisnis MLM. Hal ini berangkat dari kegerahan atas klaim dari beberapa pejuang MLM yang saya temui (ahh... kelihatannya saya berbakat jadi politikus yang selalu sok peduli, terutama menjelang pemilu). Saya akan mencoba memaparkannya sesederhana mungkin sehingga dapat dengan mudah dipahami (InsyaAllah) soalnya dari beberapa artikel yang membahas hal sejenis yang pernah saya baca, ada kesan sulit untuk dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu bisnis atau ekonomi.

Pertama-tama harus dibedakan dulu antara MLM dengan bisnis direct selling. Sekilas dari luar kedua bisnis ini terlihat mirip, tapi yakinlah, roh kedua bisnis ini berbeda jauh, sejauh hubungan kamu sama mantan yang sudah kawin. Dalam sebuah bisnis MLM, produk yang dijual hanya kamuflase dengan harga yang bisa dikatakan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan produk sejenis. Beberapa diantaranya merupakan produk yang diklaim memiliki manfaat bagi kesehatan padahal sama sekali belum teruji secara ilmiah. Satu lagi ciri khas yang sangat kental dalam bisnis ini adalah semangat yang tinggi dari anggotanya dalam mencari downline, bukan menjual produk. Semua peserta selalu berpikir "lebih baik mencari downline sebanyak-banyaknya, biar mereka yang berusaha, nanti saya tinggal ongkang-ongkang kaki". Akibatnya tujuan bisnis yang normal (etis), yaitu menjual produk dan mendapat profit dari aktivitas tersebut, jadi terabaikan sehingga bisnis ini lebih cenderung mengarah pada money game (hanya saja disertai produk yang dijadikan alat kamuflase). 

Sedangkan perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan eceran. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan menjual produk ke konsumen, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus. Tapi sayangnya beberapa perusahaan direct selling dengan salah kaprah telah difitnah dan bahkan memfitnah diri mereka sendiri sebagai perusahaan MLM meski secara bahasa hal ini tidak salah mengingat sistem penjualan yang juga berjenjang. Intinya, beda MLM dan direct selling adalah dari sisi sumber semangatnya. Pejuang MLM memiliki semangat dan tujuan untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya sedangkan pasukan direct selling bersemangat menjual produk sebanyak-banyaknya. Dan lagi, hampir semua produk MLM sebenarnya dibeli oleh anggota mereka, bukan pelanggan asli.

Dari perbedaan diatas dapat dilihat bagaimana sistem MLM pada akhirnya akan memakan korban, yaitu anggota yang bergabung belakangan. Keuntungan sudah pasti hanya terpusat pada mereka yang memasuki bisnis ini pada saat awal ketika bisnis belum berkembang. Untuk itu mari kita berasumsi jika dalam sebuah bisnis MLM setiap anggota diwajibkan merekrut lima anggota baru. Maka deret ukur yang muncul adalah sebagai berikut, 1, 5, 25, 125,.... dan pada level ke-13 kita akan menemukan angka 244.140.625,- Itu adalah jumlah penduduk Indonesia. Dan bila hitungan anda cukupkan sampai level ke-15 anda akan menemukan angka lebih dari 6 milyar. Luar biasa, padahal jumlah penduduk dunia pada 2013 diperkirakan 7,2 Milyar. Artinya MLM tersebut kekurangan stok manusia untuk mencari downline level ke-16. Itu berarti MLM memiliki titik jenuh yang pasti, walau pada kenyataannya belum ada satupun perusahaan MLM yang sempat mencapai titik jenuh ini, tetapi logikanya adalah seperti angka-angka yang saya sajikan diatas (terimakasih pada MS-Excel yang sangat memudahkan saya dalam melakukan perhitungan, tidak terbayangkan jika hitung-hitungan diatas harus saya lakukan secara manual). 

Salah satu pertanyaan terbesar dalam bisnis MLM adalah berapa persentase pejuang MLM yang meraih keuntungan dari bisnis ini? Mari kita sekali lagi berandai-andai. Berikut adalah sebuah ilustrasi matematika sederhana dari program distribusi 6 level yang mana setiap orang wajib merekrut 5 orang. Seorang partisipan akan mulai mendapatkan keuntungan setelah memiliki 2 level downline, yang berarti keuntungan baru bisa diperoleh saat sudah memiliki 30 downline (5+25 = 30 orang).

Ilustrasi:
Top Level: 1
Level #2: 5
Level #3: 25
Level #4: 125
Level #5: 625
Level #6: 3.125
Total 3.906 partisipan

Karena hanya anggota yang memiliki 2 level downline saja yang bisa untung, maka hanya partisipan level 1,2, 3 dan 4 yang akan mendapatkan keuntungan. Jumlah mereka (156/3906) kurang dari 4%. Persentase anggota yang kehilangan uang lebih dari 96%.

Hal ini akan tetap berlaku berapapun level yang ditambahkan. Kita akan dapat memastikan bahwa 96% anggota pasti akan rugi. Contoh, bila ilustrasi diatas ditambah 1 level (level #7), berarti ada tambahan 15.625 anggota. Peserta total akan menjadi 19.531. Jumlah anggota yang bisa mendapatkan keuntungan adalah 1+5+25+125+625=781 orang, tetap kurang dari 4% dibandingkan 19.531.

Benar-benar jenis bisnis yang bisa memberi kepastian, PASTI BANYAK YANG TEKOR!! Dan bukan cuma itu saudara-saudara, anggota baru yang "terjebak" memasuki bisnis MLM biasanya dibebani dengan semacam uang pendaftaran. Uang pendaftaran ini merupakan salah satu sumber pendapatan utama dan uang itu merupakan kerugian awal yang didapat oleh anggota yang bergabung belakangan. Seandainya setiap anggota baru dikutip Rp.50.000 saat pendaftaran, maka dengan menggunakan ilustrasi diatas mari kita kalikan jumlah dana yang terkumpul dari yang buntung (3750x50000=187,5Jt). Uang sebanyak Rp.187,5Jt  itu menguap entah kemana.

Apakah cukup sampai disana sistem yang jahat ini bekerja? Tentu tidak!! Masih ada kegiatan bisnis tambahan lain yang mendatangkan pemasukan sangat signifikan melalui bisnis tambahan yang antara lain dilakukan dengan mengadakan seminar motivasi yang dibarengi dengan penjualan buku, kaset, dll yang katanya merupakan trik untuk mencapai "kesuksesan". Uang pendaftaran untuk mengikuti seminarpun seringkali dibungkus dengan indah menggunakan kata "investasi". Investasi ini rata-rata berkisar pada angka Rp.500.000,-. Silahkan anda kalikan sendiri dengan angka ilustrasi yang kita gunakan diatas!! Fantastis!!

Fokus utama pelatihan dan seminar mereka adalah melatih, memotivasi, dan memberikan reward kepada anggota untuk merekrut lebih banyak anggota lainnya. Kenyataannya, mau ikut dalam ribuan pelatihan yang sama dengan ribuan motivasi yang sama dilanjutkan dengan membaca buku motivasi yang sama, dan menonton video motivasi yang sama, hasil yang diperoleh tidak akan sama. Semua sangat tergantung pada timing seseorang terlibat dalam bisnis ini. Tidak ada korelasi sama sekali dengan motivasi, semangat, ataupun pelatihan yang diikuti.

Trus, apa lagi borok yang harus dibongkar dari bisnis ini? Data saudaraku yang tercinta. Data yang mereka sajikan sebagai bahan motivasi bisa dikatakan merupakan dusta yang nyata. Mereka selalu menyajikan data pendapatan anggota bisnis mereka dengan merata-ratakan pendapatan segelintir orang yang berpendapatan besar dalam bisnis mereka dengan ribuan yang tidak mendapat apa-apa. Analoginya, coba anda kumpulkan 1000 orang gelandangan yang tinggal di bawah kolong jembatan untuk dihitung penghasilan rata-rata mereka, selanjutnya anda ikutkan Chairul Tanjung dalam perhitungan tersebut. Sudah pasti dari perhitungan tersebut akan muncul penghasilan rata-rata yang fantastis. Padahal kenyataannya cuma satu orang yang memiliki penghasilan luar biasa! Hal ini menimbulkan kesan seakan-akan anggota mereka rata-rata mendapatkan profit padahal dalam kenyataan mayoritas anggota tidak mendapatkan apa-apa. 

Selanjutnya hampir semua data yang dipresentasikan MLM mengabaikan biaya rata-rata ataupun pengeluaran seperti transportasi, telepon, perjalanan, pelatihan, ataupun ongkos pengiriman yang terjadi akibat mengoperasikan bisnis MLM. Dengan cara ini, “gross income” dicampuradukkan dengan “net profit”.

Mau tau sebuah fakta yang sangat mengejutkan? Survei dari Pyramid Scheme Alert menunjukkan bahwa peluang keberhasilan dalam bisnis MLM lebih kecil dibandingkan dengan peluang menang dalam beberapa jenis perjudian!! Lebih dari itu, dalam semua permainan judi dan lotere, peluang menang-kalah adalah bersifat acak, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Dalam bisnis MLM, peluang menang-kalah sangat ditentukan oleh posisi dan timing. Hanya mereka yang mengikuti program sejak awal, pemilik program, dan sejumlah kecil anggota yang akan mendapatkan keuntungan. Mereka berada di posisi di mana keuntungan sudah dipastikan ada setiap kali ada anggota baru yang masuk. Para pecundang, yaitu mereka yang masuk belakangan, tidak memiliki peluang sama sekali untuk menggantikan posisi mereka yang berada di atas.

Dari paparan diatas dapat kita lihat betapa jahatnya model bisnis seperti ini. Bahkan judi yang sudah pasti haram pun masih kalah mengerikan dibanding bisnis ini. Saya tidak berani memvonis bahwa MLM adalah bisnis yang haram. Akan tetapi, anda dapat memasukkan saya kedalam golongan orang-orang yang tak akan pernah terlibat dalam bisnis ini. Dan bagi anda yang masih tertarik untuk melakukan bisnis ini, silahkan saja. Tapi saya harap anda benar-benar paham dengan sistem yang dijalankan serta mengerti dengan peluang anda didalamnya. Perhitungan anda harus benar-benar matang dan tidak semata-mata terbuai dengan iming-iming bonus yang diberikan. Jika tidak, alih-alih investasi (seperti terminologi yang sering digunakan dalam bisnis ini untuk uang pendaftaran dan biaya seminar) anda akan tersesat ke ranah tak bertuan yang sangat mengerikan. MLM seringkali tak lebih dari money game hasil modifikasi dari Skema Ponzi dan Pyramid Game yang disembunyikan dengan penjualan produk sementara keuntungan yang dicari bukanlah melalui penjualan produk-produk yang ditawarkan. Hukum dinegara kita masih belum memberi perlindungan maksimal dibidang ini.

Terakhir, ada satu lagi kata-kata rayuan yang sering dilontarkan saat anda dibujuk masuk kedalam bisnis ini. Ketika anda terlihat sudah antipati dengan model bisnis seperti ini, si pembujuk akan berusaha meyakinkan anda bahwa bisnis MLM yang satu ini "lain". Bisnisnya berbeda dengan MLM-MLM lain yang pernah anda dengar. Percayalah, tak ada yang "lain" dalam bisnis ini. Roh dari bisnis ini tetap sama dari masa ke masa, hanya topengnya yang diganti-ganti. 

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dgn jalan yg batil (Q.S. An Nisa' : 29)


NB: Ada hal menarik dalam sebuah terminologi pada bisnis ini. Istilah downline seringkali disebut dengan istilah "kaki" dalam Bahasa Indonesia. Entah itu sebuah olok-olok pada anggota yang masuk belakangan karena mereka menjadi kaki. Kaki yang menopang beban tubuh secara keseluruhan, dalam hal ini mereka menanggung beban kerugian. Mereka adalah korban, ironisnya, seringkali mereka adalah korban dari harapan bahkan terkadang korban ketamakan diri mereka sendiri.

Jumat, 14 Juni 2013

Mereka Masih Bersyukur

Beberapa waktu yang lalu saat mengikuti sebuah diklat yang diselenggarakan di sebuah hotel ada kejadian yang menyadarkan saya akan arti syukur. Bukan hanya arti dari segi bahasa tapi (InsyaAllah) makna. Sebuah kejadian sederhana pada saat ishoma. Setelah waktu istirahat tiba, saya bergegas menuju mushala hotel untuk melaksanakan shalat zuhur. Disana saya melihat tiga orang tunadaksa dengan khusyuk melaksanakan shalat berjamaah dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka adalah peserta pelatihan bagi orang berkebutuhan khusus yang kebetulan diselenggarakan di hotel yang sama.

Lantas apa yang istimewa dari hal itu? Saya sulit untuk mendeskripsikan momen tersebut, tapi jika anda berada disana, saya kira anda juga akan terhanyut dengan apa yang terpampang di depan mata. Saya berasumsi dan berprasangka baik bahwa mereka adalah orang-orang yang bersyukur. Mereka melaksanakan dengan ikhlas hal yang dibebankan sebagai kewajiban bagi setiap muslim meski harus bersusah payah dalam melakukannya disaat banyak sekali orang yang mengaku muslim dengan kondisi tubuh sempurna melalaikan bahkan sama sekali meninggalkannya. Dan saya yakin jika ibadah merupakan salah satu wujud syukur kita kepada Yang Maha Kuasa. Dalam Islam setiap orang diwajibkan untuk bersyukur, tidak peduli seperti apa kondisi kehidupan yang dijalani selama apa yang dijalani bukanlah maksiat. Buktinya dalam Surat Ar-Rahman Allah SWT mengulang-ulang kalimat "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" sebanyak 31 kali. Ayat itu berlaku umum bagi setiap muslim, tak ada disyaratkan bahwa ayat itu hanya berlaku pada kondisi tertentu. Sesulit apapun kondisi kehidupan seorang muslim, ketika ia membaca Surat Ar-Rahman, pengertian dan perintah seperti itulah yang mereka terima, perintah untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima, apapun kondisinya!

Apa yang saya lihat diatas benar-benar menyentuh bagi diri saya pribadi. Teringat akan shalat yang walau rutin saya kerjakan namun terkadang ada rasa terpaksa dalam melaksanakannya. Kurangnya nikmat dalam beribadah yang saya rasa dikarenakan kurangnya rasa syukur. Tiga orang yang saya lihat itu mungkin dari segi fisik mereka kurang dibanding kita, tetapi dari sisi iman, ketiga orang itu InsyaAllah lebih baik. Rasa syukur mereka InsyaAllah telah teruji, mereka tetap bersyukur dengan kekurangan yang "dianugerahkan" kepada mereka yang dibuktikan dengan ketaatan dalam beribadah.

Kemudian saya teringat pada dua orang sahabat Rasulullah SAW yang juga memiliki keterbatasan fisik. Yang pertama adalah Abdullah bin Ummi Maktum RA, beliau adalah seorang tunanetra. Hanya seorang tunanetra akan tetapi Rasulullah SAW memanggilnya dengan sebuah panggilan yang menurut saya teramat indah "Hai orang yang aku ditegur karenanya". Benar, ia adalah sahabat yang menyebabkan Rasulullah SAW mendapat teguran keras dari Allah SWT melalui Surat 'Abasa 1-16. Ceritanya, pada suatu ketika Rasulullah SAW menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan untuk masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Abdullah bin Ummi Maktum yang berharap agar Rasulullah SAW membacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullah SAW bermuka masam dan memalingkan muka dari Abdullah bin Ummi Maktum karena merasa pembicaraannya dengan para pemuka Quraisy jadi terganggu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah. Dan yang lebih dahsyat lagi mengenai Abdullah Bin Ummi Maktum RA ini adalah fakta bahwa beliau terlibat dan gugur sebagai syuhada dalam Pertempuran Qadisiyyah yang terkenal itu.

Yang kedua adalah Amr Bin Jamuh RA. Beliau memiliki keterbatasan fisik berupa kaki yang pincang. Saat Perang Badar beliau diberi kemudahan untuk tidak ikut berperang karena keterbatasan fisik dan usia tua. Akan tetapi saat Perang Uhud berkecamuk, beliau turut serta setelah diizinkan oleh Rasulullah SAW. Beliau adalah salah satu syuhada yang gugur di medan uhud.

Kedua orang sahabat tersebut boleh jadi memiliki keterbatasan tapi keutamaan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Posisi sebagai sahabat nabi saja sudah menempatkan mereka ditempat yang tinggi.

Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menandingi kualitas infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi sesudahnya (para tabi’in) kemudian generasi sesudahnya (para pengikut tabi’in)”. (Muttafaqun ‘alaihi)

 Dengan matanya yang buta Abdullah bin Ummi Maktum RA dapat melihat jalan ke surga lebih jelas dari kita yang tidak buta. Amr Bin Jamuh RA InsyaAllah berlari lebih cepat menggapai surga dibanding kita yang diberi fisik sempurna. Untuk cerita lebih lengkap tentang dua manusia luar biasa ini silakan anda cari dari berbagai sumber karena seperti biasa, saya malas berpanjang lebar bercerita.

Selanjutnya saya ingin memberi contoh yang berkebalikan dari hal diatas. Saya pernah mengenal seseorang (sebut saja bunga, terserah bunga apa meski agak aneh kalau ada pria bernama melati) yang berkeluh kesah dan menganggap Allah SWT tidak adil padanya. Dia protes dengan himpitan ekonomi yang dibebankan kepadanya. Dalam hati saya hanya bisa nyengir karena saya tahu pada saat diberi kelapangan, rezeki yang didapatkannya cuma dihabiskan untuk maksiat. Seharusnya ia bersyukur, dengan diberi cobaan berupa kekurangan rezeki berarti dia tidak bisa menambah pundi-pundi dosanya. Tuhan sayang padanya sehingga Tuhan menyelamatkannya dari dosa dengan cara yang unik. Untuk itu harusnya ia melakukan intropeksi diri dan  bersyukur.

Jadi, sekarang bagaimana kita? Sudahkah ada syukur itu? Bisakah contoh yang terpampang diatas kita jadikan cermin. Disaat syukur sudah menjadi barang yang teramat mahal dan tersembunyi, tertutupi oleh keluh kesah dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak dibutuhkan. Syukur yang lenyap dihembus keinginan-keinginan tak berujung yang sia-sia meski sering kali keinginan itu bukan kebutuhan, bahkan bukan merupakan kebutuhan pokok. Padahal sebenarnya kita sudah sering ditegur agar bersyukur. Teguran yang terkadang datang melalui hal-hal sepele seperti sariawan yang membuat hilangnya kenikmatan saat makan walau terhidang menu yang menggiurkan di depan mata. Atau teguran yang bersifat lebih serius seperti pengalaman saya diatas. Kita harus lebih sering bersyukur dengan segala nikmat yang seringkali tidak kita sadari yang kita dapatkan tanpa harus berdoa dan terkadang tanpa harus berusaha. Tapi begitulah sifat manusia umumnya, kurang menghargai apa yang dimiliki sementara dilain pihak banyak yang menginginkan hal itu tapi tidak bisa mendapatkannya.

Don't think of the things you didn't get after praying. Think of the countless blessings God gave you without asking. "Then which of the favours of Your Lord will you deny?"


NB: Saya menulis ini dengan rasa ngeri-ngeri sedap. Banyak menyenggol masalah agama yang saya sama sekali awam terhadapnya. Seandainya ada pendapat saya yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist, maka lemparkan pendapat saya kedinding dan anggap saja akal saya tidak berada ditempatnya saat itu!
Selalu tempatkan Dalil Naqli diatas Dalil Aqli, itu PRINSIP sebagai muslim.

Minggu, 02 Juni 2013

Karena Cinta Soal Rasa.....

Setelah beberapa tulisan yang agak sedikit serius sekarang saatnya tulisan yang ringan seringan kapas tapi menggalaukan (hehehehe...). Inspirasi menulis ini muncul setelah dialog iseng sama adek sepupu di twitter beberapa hari yang lalu. Intinya adalah pertarungan abadi antara logika dan perasaan dalam masalah cinta. Pergulatan tanpa akhir antara otak dan hati dalam menentukan pilihan. Mana yang harus didahulukan ketika cinta harus memilih (halaah... apaan coba!!), pilihan hatikah atau pilihan otak/pikiran? Dan agar tulisan ini semakin ringan dan ga bermutu maka instrumen yang digunakan dalam memilih cukup dibatasi antara logika dan perasaan. Saya tidak berani menyentuh wilayah agama karena nantinya akan menambah beban tulisan ketika yang bergulat adalah petunjuk Tuhan dengan godaan setan. (beraaat eeuuuyyy).



Teringat pada sebuah kata-kata (yang semoga) bijak yang saya juga lupa entah siapa yang mengucapkannya pertama kali.
"Pilihlah cintamu, kemudian cintailah pilihanmu". 
Teorinya emang gitu cuk tapi kebanyakan orang salah langkah dengan mencintai terlebih dahulu dan kemudian baru sadar kalo ternyata sudah salah pilih.

Karena memang cinta adalah soal rasa, biasanya orang yang sudah teramat dalam jatuh cintanya akan kehilangan logika. Meski harus menerjang gunung golok dan hutan pedang, walau harus menempuh gurun penuh singa dan berenang di kolam naga akan tetap diusahakan untuk mendapatkan sang pujaan hati. Lantas apa artinya bila cinta hanya mendatangkan sengsara dalam memperjuangkannya sedangkan didepan sana masih ada ribuan ketidakpastian saat cinta itu didapat! Masih belum ada jaminan bahwa setelah badai sengsara akan ada semilir bahagia (aawww.... awww... semakin galawww).

Saya yakin jika sebenarnya sesaat sebelum jatuh cinta sudah ada mekanisme alam bawah sadar yang dijalankan oleh logika dengan menyaring seluruh informasi tentang target operasi. Logika sudah berjalan dengan sebuah monolog didalam pikiran yang antara lain akan menimbang dengan pertanyaan, mungkinkah? bisakah? bagaimanakah? realistiskah? dan lain-lain. Setelah otak merasa ada "harapan" barulah ia menyampaikan kepada hati dan berkata "OK, sekarang kamu boleh mencoba untuk jatuh cinta".

Nahhh... setelah jatuh cinta terjadi, mau tidak mau, hati/perasaan akan memegang kendali. Analoginya mungkin seperti sebuah pertandingan tinju. Pikiran tak lebih dari seorang pelatih yang memiliki peran antara lain untuk memilihkan lawan yang dianggap sepadan dan dapat ditaklukkan oleh petinju didikannya dan memikirkan strategi agar petinjunya dapat memenangkan pertandingan (kenyataannya banyak petinju yang tidak mendengar masukan pelatihnya karena tergoda oleh iming-iming bayaran selangit yang ditawarkan promotor). Sedangkan si petinju adalah perasaan yang akan bertarung langsung di atas ring.

Setelah lawan ditemukan, maka urusan diatas ring sepenuhnya menjadi hak petinju yang terkadang karena terbawa emosi melupakan strategi yang telah ditetapkan oleh sang pelatih. Sementara dipinggir ring sang pelatih sudah berteriak-teriak panik memberi saran, masukan, dan peringatan yang mungkin sudah tidak lagi diindahkan oleh si petinju. Seandainya si petinju kalah dengan kondisi babak belur, gigi patah, berdarah-darah, si pelatih akan berkata "gue bilang jg ape, lu sih kaga mau dengerin omongan gue".

Seperti itulah yang terjadi ketika perasaan sudah menguasai, bagaimanapun logika memperingatkan akan tidak didengar lagi. Perasaan akan selalu mampu mencari alasan untuk memberi toleransi pada rasa sakit yang dirasa terutama dengan kata mutiara andalan "cinta adalah pengorbanan" (jiaaahhh... kl berkorban terus, lantas lu kapan bercintanya???). Ketika terlalu menuruti perasaan dan pada akhirnya setelah pengorbanan panjang ternyata ujung-ujungnya malah menjadi korban barulah logika nongol lagi sambil berkata "gue bilang jg ape, lu sih kaga mau dengerin omongan gue". Persis dengan kata-kata pelatih tinju tadi.

Trus gimana dong solusinya? Orang yang (merasa) bijaksana akan dengan enteng menjawab, harus ada keseimbangan antara hati dan pikiran. Tapi Demi Tuhaaaan!!! sulit sekali menentukan dimana lokasi titik tengah antara hati dan pikiran, mungkin berada dileher, tapi sayangnya leher takkan pernah bisa memberi jawaban! Idealnya pada tahap awal logika harus lebih dikedepankan untuk menimbang, mengingat, dan memutuskan. Setelah seluruh kriteria yang sudah ditetapkan logika terpenuhi barulah perasaan diberi kesempatan mengambil kendali dengan tetap berpedoman pada acuan yang telah ditetapkan oleh logika.

Tapi bagaimana dengan "cinta pada pandangan pertama?". Naahhh... ini nih yang jadi masalah. Untuk yang satu ini bisa dipastikan logika sudah tidak mendapat tempat. Sudah basah duluan sebelum hujan, jadi malas membawa payung. Perasaan sudah menang duluan, logika harap diam! Meski harus diakui bahwa cinta pada pandangan pertama hanyalah merupakan sebuah ketertarikan fisik yang menyengat, itu pasti! Tak ada yang salah dengan hal ini, tak ada salahnya memilih dengan fisik sebagai kriteria (walau kecantikan/ketampanan tidak menjamin kebahagiaan, tapi apa lu yakin kalo istri/suami lu jelek, lu bakal bahagia?? Paling banter lu cuma jadi filsuf amatir yg sibuk ngebahas ttg inner beauty). Saya pribadi akan mengambil sengatan love at first sight ini sebagai pertanda untuk mulai mengumpulkan data tentang "si penyengat". Setelah itu beri tempat pada logika untuk menimbang seluruh informasi yang sudah terkumpul. Jika logika menyetujui, maka lanjutkan. Jika logika tidak setuju, maka pendamlah dan cukupkan mengalir sebatas tatapan mata atau sebait puisi (Ohhh... yess!! klik disini --->contoh barang).

Kesimpulannya, karena cinta soal rasa maka dari itu biarkan perasaan yang memberikan keputusan akhir setelah melalui proses seleksi ketat dan pertimbangan yang matang dari logika. Apa gunanya memaksakan jalan cerita hanya karena logika berkata "iya" sementara perasaan tidak bisa menerima. Memang benar bahwa cinta bisa datang karena sudah terbiasa tapi "bisa" tidak sama dengan "pasti". Oleh karena itu, pada akhirnya biarkan perasaan yang memutuskan karena cinta soal rasa....

NB: Terkait untuk masalah jodoh, memang takdir sudah menentukan tapi tetap dibarengi usaha/ikhtiar yang logis. Akumulasi dari ikhtiar dan doa akan sangat menentukan meski terkadang hanya sebentuk usaha kecil semisal senyum yang terlontar dan doa yang sederhana saat berhenti di lampu merah (sapa tau pas ada malaikat lg nyebrang jalan dan denger tuh doa trus nyampein ke Tuhan). Masih ingat dengan butterfly effect kan? Just flap those wings!!!

Minggu, 26 Mei 2013

Sebuah Hak Yang Dikebiri

Dalam sebuah perjalanan dinas ke Surabaya beberapa hari yang lalu selama 3 hari, ada hal menarik yang saya temui. Hal tersebut baru saya sadari setelah terakumulasi menjadi sebuah derita tak bertepi. Hal yang saya maksud adalah semakin dikebirinya hak-hak perokok di negeri ini. Kemudian ingatan saya melayang pada beberapa kejadian, dan akhirnya saya yakin seyakin-yakinnya bahwa memang perokok sudah disingkirkan perlahan secara sistematis dari ruang publik (halaah.. serius amat kalimatnya!!).

Awal derita yang saya rasakan sebagai seorang perokok adalah saat menunggu keberangkatan di Stasiun Tugu, smoking area diletakkan di daerah terpencil yang terkena cahaya langsung dari matahari sore yang menggigit. Benar-benar membuat selera merokok jadi hilang tak berbekas. Penderitaan pun berlanjut hingga diatas kereta. Argo Wilis tidak bisa lagi diajak kompromi. Dulu perokok masih bisa melepas hajat pada ruang kecil diujung gerbong di dekat kamar kecil, tapi sekarang seluruh gerbong benar-benar dibuat steril dari asap rokok. Singkatnya, saya baru bisa merokok dengan tenang setelah masuk kamar hotel di Surabaya setelah disiksa kurang lebih selama 7 jam.

Hari berikutnya adalah hari kunjungan kerja. Tempat pertama yang harus saya (kami) datangi adalah RS dr. Soetomo. Untuk sebuah Rumah Sakit rasanya tak perlu lagi saya jelaskan betapa kejamnya perlakuan mereka terhadap perokok. Kunjungan selanjutnya adalah Kampus Universitas Airlangga. Disini masih disediakan ruangan khusus untuk merokok. Ketika ada kesempatan saya langsung menuju kesana, airmata saya nyaris menetes (lebay) melihat kondisi smoking room disana. Lebih tepat disebut gudang, berada di bagian luar (semacam balkon) dengan kondisi tempat duduk lebih parah daripada bangku metromini.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, emosi sesaat saya berontak terhadap perlakuan yang diterima oleh  kami para perokok. Tetapi emosi tersebut langsung KO dihajar akal sehat. Memang benar para perokok memiliki hak untuk merokok, akan tetapi non-perokok juga memiliki hak untuk tidak terkena asap rokok. Mereka punya hak atas kesehatan mereka.

Pernah suatu kali saat saya sedang makan di sebuah tempat yang tidak ada tanda "dilarang merokok"-nya kemudian datang satu keluarga (terdiri dari bapak, ibu, dan satu anak) duduk di meja tepat dibelakang saya. Saat itu saya sedang merokok. Tiba-tiba si ibu dengan wajah sangat menyebalkan membuat gestur yang jauh lebih menjengkelkan dengan mengipas-ngipas asap rokok yang nyasar ke arahnya. Emosi saya tersulut, bukankah saya sudah terlebih dahulu berada disana, bukankah masih banyak meja lain yang kosong, bukankah disana tidak ada tanda larangan merokok. Saya sudah hendak menyemprot ibu itu dengan dengan kalimat-kalimat indah, tapi sekali lagi, akal sehat saya masih bisa mengendalikan emosi (terutama setelah menimbang dan mengingat ukuran tubuh si bapak yang kekar tinggi berotot. hehehe...). 

Tentu saja bukan ukuran tubuh si bapak yang membuat saya menahan diri, tetapi akal sehat yang mengatakan bahwa saya bebas merokok dimana saja selama tidak ada larangan dengan syarat tambahan kalau saya bisa mengendalikan asap rokok untuk tidak merugikan orang lain yang tidak merokok yang berada disekitar saya! Syarat tambahan yang sering saya abaikan terutama bila orang yang berada disekitar saya cukup pengertian (ngeles... hehehehe).

Kembali ke permasalahan hak perokok yang telah dikebiri tadi. Sebenarnya bukan hak perokok yang dikebiri akan tetapi hak yang bukan perokok sekarang sudah agak dihormati. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran massal akan bahaya rokok. Untuk itu, seharusnya perokok lebih memahami hal ini. Dan juga memahami bahwa hak dan kebebasan kita (perokok) jangan sampai melanggar wilayah kebebasan dan hak orang lain. Pelajaran sederhana yang sudah pernah diberikan semenjak bangku sekolah dasar. Dan saya memahami hal ini, khususnya untuk masalah rokok. Jangankan orang lain, saya sendiripun sudah merasa sangat tidak nyaman dengan rokok dan dengan kebiasan saya merokok.


NB: Saat ini saya sedang akan bertekad untuk berhenti merokok, sebuah target yang mudah-mudahan bisa saya raih tahun ini. Sekarang sedang berusaha mencari klinik hypnotheraphy untuk berhenti merokok yang berada di wilayah yogya dan sekitarnya. Dan satu lagi, (ironisnya) saya termasuk pada golongan orang yang yakin bahwa rokok itu HARAM!!! 

Sabtu, 18 Mei 2013

Piye Kabare Le?

Belakangan hari saat saya melintasi jalan-jalan Yogya sering terlihat gambar Pak Harto. Gambar tersebut terlukis dibagian belakang truk pengangkut barang, tertempel dikaca mobil pribadi, melekat pada kaos oblong tukang becak, menghiasi tembok-tembok kota dalam bentuk mural, dan berbagai media lainnya. Gambar tersebut dihiasi dengan tulisan yang menggelitik "Piye kabare le? Isih penak jamanku tho?" yang artinya kurang lebih "bagaimana kabarmu nak? masih enak zamanku kan?" (maap kalo terjemahannya kurang pas). Mungkin generasi yang lahir pada era 90-an tidak begitu memahami hal ini. Mungkin mereka tahu melalui buku-buku, cerita, ataupun melalui internet mengenai keadaan dizaman Pak Harto. Tetapi mereka tidak akan memahami atau mengerti sepenuhnya karena tidak merasakan masa orde baru.

Gambar beserta tulisan itu merupakan bentuk kerinduan masyarakat kecil akan stabilitas dan kepastian. Beberapa kali saya mendengar obrolan tentang hal itu, bagaimana masyarakat kecil dengan menggebu memberi pujian setinggi langit pada Pak Harto atas stabilitas yang diwujudkannya, baik dibidang politik maupun ekonomi. Pada saat bersamaan seringkali sumpah serapah ditujukan pada pemerintahan sesudahnya. Saya hanya diam mendengarkan dan berusaha untuk tidak terlibat dalam perbincangan. Saya diam bukan karena setuju dengan apa yang mereka katakan tetapi saya diam karena saya mengerti dengan apa yang mereka rasakan. Pujian mereka lebih cenderung tertuju pada stabilitas ekonomi yang diberikan orde baru pada mereka karena mereka cenderung kurang peduli pada masalah politik.

Akan tetapi saya akan memberi reaksi berbeda jika ucapan seperti itu saya dengar terlontar dari mulut orang yang saya rasa cukup berpendidikan. Saya akan membantah karena saya tidak setuju dengan apa yang mereka katakan dan saya tidak mengerti dengan jalan pikiran yang mereka gunakan.

Memang harus diakui, pada saat orde baru terdapat sebuah stabilitas yang panjang. Tapi harga stabilitas itu mungkin terlalu mahal terutama bagi orang-orang yang merasakan langsung tindakan represif rezim orde baru. Tapi disini saya tak akan membahas persoalan politik. Itu bukan bidang saya dan saya tak begitu suka dengan hal tersebut, dan lagi pada batas-batas tertentu saya cenderung setuju dengan cara-cara represif yang dilakukan orde baru untuk menegakkan stabilitas politik dalam negeri.

Saya akan mencoba membahas stabilitas ekonomi yang ada pada zaman orde baru. Untuk bidang ekonomi mungkin saya bisa lah membahas sedikit-sedikit. Tapi pembahasan saya hanya pembahasan sederhana yang tidak akan bergelut dengan data dan angka-angka.

Ucapan yang paling sering saya dengar saat memperbincangkan Pak Harto dengan orde baru-nya adalah "zaman Pak Harto enak, apa-apa murah". Seperti yang sudah saya katakan, saya bisa mengerti ketika hal ini terlontar dari mulut orang awam. Tapi jangan sekali-kali hal ini terucap dari mulut orang yang memiliki pendidikan memadai, apalagi jika pendidikan itu berlatar belakang ilmu ekonomi.

Analogi sederhananya adalah; coba anda bayangkan seandainya ada tetangga anda yang tinggal disebuah rumah mewah, punya mobil bagus, gadget anak-anaknya selalu model terbaru dari kelas high end, setiap hari mereka makan makanan mewah, dan memakai pakaian mahal. Anak-anaknya banyak dan tentu saja kelakuannya juga beraneka ragam. Ada yang patuh dan sayang sama orang tuanya dan ada juga yang bandel. Untuk anak yang bandel, si Bapak tidak segan-segan main tangan dan terkadang kelewatan.

Tiba-tiba pada suatu hari si bapak meninggal dunia. Tanggung jawab rumah tangga jatuh pada anak tertua. Pada saat itulah masalah muncul, ketika datang beberapa orang bertampang sangar datang menagih utang. Ternyata segala kemewahan yang dinikmati oleh keluarga tetangga anda itu dibiayai dengan utang. Anak tertua yang kini bertanggung jawab atas kehidupan keluarga besar itu tentu saja pusing, akhirnya terpaksa menjual aset berupa barang-barang yang ada dirumah dan membuat utang baru yang akan digunakan untuk membayar utang lama. Pada saat bersamaan adik-adiknya yang tidak mengerti permasalahan mulai berkeluh kesah dan membanding-bandingkan serta berkata "lebih enak waktu bapak masih ada ya". 

Mereka tidak tahu dan tidak memahami bahwa apa yang mereka rasakan saat ini tidak lain merupakan akibat dari apa yang dulu dilakukan bapaknya. Mereka tidak mengerti kesulitan si kakak yang mewarisi dan bertanggung jawab terhadap pelunasan utang-utang bapaknya. Dan parahnya lagi, dikemudian hari ditemukan bahwa sebagian besar utang si bapak tidak digunakan untuk kesejahteraan rumah tangganya, entah dipakai untuk apa.

Kurang lebih seperti itulah yang terjadi pada negeri ini. Saya tidak membela rezim setelah orde baru karena pada kenyataannya masalah utang ini diperparah dengan prilaku menumpuk utang yang tidak jauh berbeda dengan rezim orde baru. Padahal kalau saya tidak salah, diakhir zaman orde baru tiap manusia yang ada di Indonesia sudah menanggung utang sebesar enam juta rupiah perkepala dengan nilai uang saat itu dengan jumlah penduduk lebih dari 200juta manusia (*). 

Beda antara rezim orde baru dengan rezim setelahnya hanya pada masalah kebebasan. Saat ini semua lebih bebas, bebas berbuat sekehendak hatinya melalui demo anarkis atau premanisme berkedok agama dan bebas bicara apa saja tanpa menimbang dampak yang ditimbulkan. Suatu hal yang nyaris tak mungkin terjadi dizaman orde baru. Tapi tetap saja, masyarakat awam tidak begitu peduli dengan urusan politik. Bagi sebagian besar mereka, asalkan bisa makan layak, punya rumah layak, bisa menyekolahkan anak, dan semua kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi. Peduli setan siapa yang berkuasa, peduli setan dengan kebebasan bicara!! Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa "mulut yang penuh takkan bersuara". Pun seandainya bersuara, paling-paling yang terdengar adalah suara cepak saat mengunyah atau sendawa setelah makan karena kekenyangan.

Akan tetapi anggapan "lebih enak zaman Pak Harto" mungkin masih bisa diterima jika dibatasi pada perbandingan keadaan (terutama bidang ekonomi) tanpa mempermasalahkan sebab akibat. Kondisi "lebih enak" yang terbatas pada kulit luar dan apa yang dirasakan tanpa memikirkan darimana dan bagaimana "keenakan" itu datang. Sebuah kepasrahan yang menafikan intelektualitas dan pemikiran.

Jadi, bagaimana menurut anda? Lebih enak mana?

(*) Kalimat ini butuh data penunjang yang akurat, tetapi saya cukup malas untuk googling perihal masalah yang satu ini.

Butterfly Effect: ("Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?")

Apakah anda pernah mendengar atau membaca tentang Butterfly Effect? Kali ini saya ingin menulis tentang hal ini, tapi sekali lagi, SAYA TIDAK AKAN MEMBAHAS SISI ILMIAHNYA (mau dibahas juga keknya saya ga bakalan sanggup). Saya hanya mencoba menuliskan pikiran liar saya yang saya coba mengaitkannya dengan butterfly effect. Sebagai pembuka, terutama bagi pembaca yang masih belum mendapat gambaran mengenai butterfly effect, berikut saya sisipkan penjelasan singkat (ngga singkat juga sih) yang saya comot dengan semena-mena dari wikipedia.

Butterfly effect (Efek kupu-kupu) adalah istilah dalam "Teori Chaos" (Chaos Theory) yang berhubungan dengan "ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal" (sensitive dependence on initial conditions), di mana perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem non-linear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal misalnya 2, maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari. (*)

Dari uraian mbah wiki diatas dapat saya simpulkan bahwa butterfly effect adalah akumulasi hal/peristiwa kecil yang bisa jadi memiliki dampak besar dimasa yang akan datang. Hal/peristiwa tersebut cenderung bersifat acak dan sepertinya tak berhubungan sama sekali.

Imajinasi liar saya membayangkan sebuah kejadian rekaan, yang mungkin bisa membawa pembaca sepemahaman dengan kesesatan saya menerjemahkan pengertian butterfly effect ini, misalnya;

Saat sedang berjalan saya melihat sebuah kayu dengan paku berkarat di tengah jalan, karena malas repot, saya tidak menyingkirkan kayu tersebut. Beberapa waktu kemudian ada anak kecil (sebut saja Budi) berlari melewati jalan itu dan menginjak paku berkarat yang tertancap pada kayu. Luka akibat paku itu beberapa hari kemudian menyebabkan infeksi yang parah. Berhubung ayah si Budi sehari-hari hanya bekerja sebagai pemulung (dan ibunya sudah lama meninggal), dia tidak bisa membawa Budi berobat untuk mendapatkan perawatan yang semestinya. Seminggu kemudian si Budi yang malang meninggal dunia. Padahal seandainya dulu saya menyingkirkan kayu keparat itu, hal ini tidak akan terjadi. Budi akan tetap hidup dan ternyata jika ia tetap hidup, dia lah yang akan menjadi pemimpin masa depan negeri ini yang berhasil membawa Indonesia menjadi negara yang makmur dan bermartabat di muka bumi.

Bayangkan, hanya gara-gara saya malas membuang sebuah kayu berpaku bisa berdampak bagi seluruh rakyat Indonesia dimasa depan!! Meskipun tindakan saya hanya merupakan bagian dari sebuah himpunan kejadian yang nantinya akan menyebabkan Budi bisa menjadi seorang pemimpin besar. Kejadian saat Budi menjadi seorang pemimpin besar memiliki ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal yang salah satunya adalah tindakan/keputusan saya terhadap kayu berpaku tersebut.

Apakah cerita rekaan ini cukup sampai disana? Tentu tidak! Seperti apa yang saya pahami "butterfly effect adalah akumulasi hal/peristiwa kecil yang bisa jadi memiliki dampak besar dimasa yang akan datang" Seandainya dulu saya menyingkirkan kayu berpaku di tengah jalan itu, budi akan tetap hidup. Beberapa bulan kemudian secara tidak sengaja ayah si Budi (sebut saja Pak Narto) menolong seorang istri pejabat (terserah apa jabatannya) yang akan dirampok oleh remaja berusia 18 tahun (detail kejadiannya silakan anda bayangkan sendiri karena saya malas memberi deskripsi). Sebagai ucapan terimakasih, istri pejabat tadi mengajak Pak Narto ke rumahnya. Sampai di rumahnya, Pak Narto dikenalkan kepada suaminya yang dengan senang hati menerima Pak Narto untuk tinggal dan bekerja sebagai satpam dirumahnya. Kebetulan pejabat tersebut tidak memiliki anak, ketika melihat Budi, pejabat itu suka padanya, mengangkatnya sebagai anak dan menyekolahkannya hingga lulus perguruan tinggi. Dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, Budi akhirnya menjadi pemimpin besar republik ini. (hassyyuuu... ceritanya sinetron banget!!)

Pada saat yang bersamaan, kayu berpaku yang saya singkirkan tadi, saya lempar ke sebuah selokan. Saat itu anak kecil lain (sebut saja Badu) sedang menangkap belut diselokan itu, belut yang akan dijadikan sebagai lauk makan malam keluarganya yang miskin. Tidak sengaja si Badu menduduki kayu berpaku (nih anak jauh lebih sial dibanding Budi yang cuma kena di kaki, Badu kena di pantat). Beberapa hari kemudian Badu mendapat demam berat akibat infeksi. Keluarganya tak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki biaya. Kakaknya yang tidak tega melihat penderitaan Badu mengambil jalan pintas untuk membiayai pengobatan Badu, ia merampok seorang ibu yang sedang berbelanja! Benar dugaan anda, itu adalah istri pejabat yang ditolong Pak Narto.

Singkat cerita, kakak si badu akhirnya masuk penjara dan sakit si Badu tidak bisa disembuhkan. Badu kecil akhirnya meninggal dunia. Seandainya Badu tidak meninggal, dimasa depan Badu akan menjadi seorang diktator paling kejam yang pernah dimiliki Indonesia.

Dari penjelasan diatas yang justru membuat semua semakin tidak jelas, dapat kita lihat berbagai kemungkinan yang terjadi yang berdampak luas dimasa depan. Jika salah satu kejadian awal berubah, maka akan terjadi perubahan ekstrim pada kejadian masa depan. Bayangkan jika kayu berpaku tadi saya buang ke tempat sampah . Budi dan Badu akan sama-sama tetap hidup, dan siapa diantara keduanya yang akan menjadi pemimpin masa depan Indonesia akan ditentukan oleh banyak peristiwa acak lainnya yang terjadi. Bagaimana nasib negeri ini dimasa depan ditentukan oleh himpunan peristiwa-peristiwa kecil yang seakan tidak berarti, tetapi akumulasi dari peristiwa kecil-kecil itu merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk terwujudnya sebuah keadaan yang berdampak besar dimasa depan. 

Cukup sekian untuk imajinasi liar saya yang mulai tanpa arah. Sekarang topiknya saya persempit untuk diri saya sendiri. Kadang saya menyadari ketika mengingat-ingat berbagai peristiwa dimasa lalu. Saya berandai-andai, seandainya dulu saya begitu mungkin hasilnya tidak begini, seadainya saya begini, mungkin hasilnya tidak begitu. Tentu saja berandai-andai seperti ini tidak diperbolehkan, apalagi jika ujung-ujungnya bermuara pada penyesalan. Saya berandai-andai bukan untuk menyesali, tetapi untuk koreksi diri. Sampai detik ini sangat sedikit hal-hal yang dulu saya lakukan yang saya sesali. Alhamdulillah, saya puas dan bersyukur dengan hidup saya saat ini. Seburuk apapun kejadian masa lalu yang saya alami, hal itulah yang membentuk saya menjadi saya hari ini.

Mungkin dimasa lalu banyak kesempatan-kesempatan yang saya sia-siakan karena menyepelekan sebuah peristiwa atau kejadian kecil. Mungkin banyak keburukan-keburukan yang berhasil saya hindari karena tidak peduli pada hal-hal yang sepele tersebut. Ada banyak kemungkinan. Tentu saja kemungkinan-kemungkinan itu bisa dijadikan perdebatan dengan mengabaikan takdir karena semua akan berhenti diperdebatkan ketika sudah menginjak wilayah takdir. Demi Allah, sebagai muslim saya percaya takdir yang dalam menjalaninya selalu harus diiringi dengan ikhtiar, tapi pembahasan saya tidak kesana, saya merasa masih belum cukup kuat membahas masalah agama karena jika salah, saya akan jadi manusia sesat yang menyesatkan. Hehehehehe...

Jadi, apakah semua hal-hal sepele harus kita beri perhatian lebih? Tentu tidak, cukup pada hal-hal baik. Peristiwa sepele namun memiliki tunas kebaikan yang harus kita beri perhatian. Tunas-tunas kebaikan yang suatu saat nanti mudah-mudahan akan menumbuhkan pohon kebaikan yang kuat dan mengakar (jika himpunan kondisi awal yang menjadi syarat terpenuhi). Meski sebuah kebaikan bisa saja berakibat buruk, akan tetapi sebenarnya bukan kebaikan itu yang berdampak buruk, bisa jadi ada keburukan yang sepele mengkontaminasi kebaikan yang dilakukan, persis seperti pengertian butterfly effect tadi. Hal yang buruk terjadi karena ada keterlibatan keburukan dalam himpunan kejadian yang merusak keseimbangan proses dalam sebuah sistem.

Sebagai penutup dari uraian diatas, sudah saatnya kita peduli dan memulai dengan hal-hal kecil yang terkadang sangat sepele. Mungkin tanpa kita sadari kita sudah mengabaikan suatu hal/peristiwa yang kita anggap sepele padahal nantinya ia akan memberi dampak teramat besar pada hidup kita. Kita sudah mematahkan sayap kupu-kupu yang cantik sebelum ia sempat terbang dan berpartisipasi dalam menciptakan sebuah badai yang setelah reda mungkin diakhiri dengan sebuah pelangi yang indah. Kita mengabaikan dan bahkan membunuh ulat kecil yang terlihat menjijikkan sebelum ia sempat menjadi kupu-kupu yang cantik yang akan mengubah kehidupan kita.

NB: Saat mulai menulis ini tadi malam, kebetulan seekor kupu-kupu masuk ke dalam kamar saya, wujudnya cukup indah, dengan warna jingga terang. Tapi saat tulisan ini selesai, kupu-kupu itu sudah mati (hiks..hiks...)
Lagipula saya kurang bisa memastikan apakah itu ngengat (moth) atau kupu-kupu (butterfly), kemungkinan besar ngengat karena nokturnal dan sayapnya yg membentang saat hinggap.

Dengan segala hormat kepada Tuan Edward Norton Lorenz, sorry bos, butterfly effect-nya saya acak-acak dengan brutal.

Selasa, 14 Mei 2013

Siapa Mau Jadi Guru?

Tadi saya mendapatkan pengalaman menarik yang mudah-mudahan cukup menarik untuk dijadikan tulisan disini. Kebetulan saya menjadi anggota Tim Penilaian Kinerja Pelayanan Publik Kota Yogyakarta. Tujuan pembentukan tim ini adalah untuk menilai kinerja pelayanan publik di Kota Yogyakarta seperti bidang pendidikan (dilakukan pada sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK), kesehatan (dilakukan pada Rumah Sakit dan Puskesmas), dan lain-lain instansi yang melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat. Setelah dilakukan penilaian akan ditindaklanjuti dengan evaluasi dan perbaikan terhadap area yang dinilai masih belum memuaskan, istilah kerennya sih continuous improvement.

Tapi, sekali lagi bukan hal-hal serius seperti diatas yang akan saya bahas. Hal-hal serius memerlukan usaha lebih dengan sitasi dan referensi yang akuntabel dengan konsep-konsep serta teori yang dapat dipertanggungjawabkan. Kalau itu saya lakukan, maka saya sudah murtad dari tujuan awal saya menulis di blog, yaitu untuk menghilangkan stres. Tulisan serius cuma menjadi stressor bagi batin yang lemah ini (Ohhh... yes...)

Cerita bermula saat saya melakukan penilaian pada salah satu SMA unggulan di Kota Yogyakarta. Proses penilaian berlangsung santai, kebetulan guru (wakasek) yang mendampingi orangnya ramah dan suka guyon. Agar suasana penilaian tidak begitu kaku, kadang-kadang obrolan keluar dari topik untuk sekedar mencairkan suasana.

Kemudian Bapak Wakasek bercerita tentang lulusan SMA ini yang 97% diterima pada beberapa perguruan tinggi ternama di negeri ini. Akan tetapi ada fenomena yang menarik tapi membuat miris disini, yaitu fakta bahwa 0% dari lulusan tersebut yang melanjutkan kuliah di bidang keguruan dan ilmu pendidikan. Bayangkan, tak satupun dari siswa yang cerdas dan pintar itu yang ingin jadi guru!!! Memang hal ini belum bisa dijadikan sampel yang akurat untuk menjustifikasi bahwa keadaan ini merupakan hal yang umum pada sekolah unggulan di Yogyakarta, apalagi Indonesia. Namun secuil gambaran yang diperlihatkan disana membuat saya berpikir bahwa dalam benak siswa-siswa yang cerdas dan pintar itu sudah tertanam jika profesi sebagai guru bukanlah profesi yang dicita-citakan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa mereka tidak bercita-cita menjadi seorang guru? Dugaan paling sederhana yang menjadi penyebabnya adalah prestise menjadi seorang guru yang masih dianggap jauh dibawah profesi lain (kebetulan lulusan SMA ini mayoritas meneruskan kuliah pada Fakultas kedokteran, teknik, psikologi, dan akuntansi). 

Lantas, apa urusannya kalau mereka tidak ingin jadi guru? Panjang saudara-saudara, urusannya jadi sangat panjang! Dunia pendidikan kita akan semakin jauh tertinggal ketika tunas-tunas terbaik sangat sedikit yang memilih menjadi pendidik. Generasi selanjutnya bangsa ini akhirnya tidak dididik oleh yang terbaik.

Padahal melalui pemberian tunjangan sertifikasi bagi guru, pemerintah sudah berusaha meningkatkan antusiasme lulusan SMA untuk menjadi guru (walau mungkin masih belum se-menjanjikan profesi lain yang sudah lebih dulu populer). Tapi, apakah hanya sisi materi yang dijadikan patokan? Apakah manusia sudah sedemikian materialistis hingga penghargaan terhadap profesi yang mulia tersebut menjadi sangat rendah? Padahal disisi lain, dalam Islam, salah satu sumber pahala yang akan terus mengalir ketika seseorang sudah meninggal dunia adalah "Ilmu yang Bermanfaat". Ambil contoh paling sederhana, guru kelas 1 SD yang mengajari muridnya membaca. Bayangkan betapa deras sungai pahala yang mengalir kedalam pundi-pundi amal seorang guru yang mengajari ratusan bahkan ribuan murid mengeja huruf A sampai Z!! Sampai si murid mati, dia pasti akan tetap menggunakan 26 huruf tersebut dalam kehidupan sehari-harinya! Seandainya ada diantara murid tersebut yang juga menjadi guru kelas 1 SD, maka ilmu yang bermanfaat tadi berlanjut, mungkin ini bisa dihitung sebagai multi level marketing-nya pahala, semakin banyak downline-nya semakin melimpah aliran pahala yang masuk.

Dari uraian ngawur diatas, bukankah jelas betapa menariknya "insentif" bagi seorang guru. Tetapi kenapa dalam kenyataan "insentif" tersebut menjadi kurang menarik? Mungkin karena imbalan yang diterima tidak nyata. Insentif "bayangan" yang sering tersamar dalam dunia yang semakin hedonis.

Lantas apa simpulan yang dapat ditarik dari uraian ngawur diatas? Ngga ada!! Namanya juga tulisan ngawur.  Hanya sekedar untuk melepaskan unek-unek kok. Memangnya saya siapa sampai berhak nyuruh-nyuruh anak orang supaya jadi guru!

Dan seandainya ada seseorang yang nyasar ke blog ini dan membaca seluruh kengawuran diatas bertanya kepada saya "Trus kenapa lu ga jadi guru?"
Jawaban saya sederhana, "kalo gurunya sudah kencing berlari, takutnya ntar muridnya kencing sambil terbang"

Salam ngawur!!